You are currently viewing Tradisi Air Keramat Masjid Jami’ Tanjung Tirto
Masjid Jami' Tanjung

Tradisi Air Keramat Masjid Jami’ Tanjung Tirto

Sejarah Singkat Berdirinya Masjid Jami’ Tanjung

Berdasarkan penuturan KH.Moh.Ghozali Pacar (1872-1992 M), Masjid Jami’ Tanjung didirikan oleh KH.Raden Ahmad Muhammad pada tahun 1830 M/1251 Hijriyah dari Kota Gresik. Pada tahun 1875 M/1296 H, KH. Raden Ahmad Muhammad kembali ke Kota Gresik, pengelolaan masjid dilanjutkan oleh putra beliau KH. Moh Nur Hasan dan menantu beliau KH.Abdurrahman. Pada 1883 M/1304 H, KH. Moh Nur Hasan hijrah ke Desa Pacar dan pada tahun 1888 M, KH. Abdurrahman hijrah ke Desa Kebulen, pengelolaan masjid dilanjutkan oleh masyarakat Tanjung beserta Ky. Abdul Ghoni (menantu Ny. Rindik/ istri KH.Raden Ahmad Muhammad) dan H. Ali (salah satu santri KH. Moh. Nur Hasan dan KH. Abdurrahman), kemudian dilanjutkan Kyai Ma’muri dan Kyai Ambari, Kyai Muhyidin dan Kyai Kandung, diteruskan oleh Kyai Mahdum. Pada era Kyai Mahdum inilah Masjid Jami’ Tanjung pada tanggal 3 Februari 1990 secara resmi dibuatkan Akta Ikrar Wakaf dengan No.W.3/09/K. 1256/1990 dan terbit Sertifikat Wakaf pada tanggal 29 Januari 1993.

Tradisi Air Keramat di Masjid Jami’ Tanjung

Hari Jum’at adalah hari istimewa bagi semua orang. Banyak sekali tradisi yang dilakukan pada hari jum’at oleh orang-orang Pekalongan. Salah satu contohnya tradisi mandi di kolah Masjid Jami’ Tanjung. Di kompleks Masjid Jami’ Tanjung terdapat 2 buah kolah yang terletak di sebelah utara dan selatan masjid. Terdapat keistimewaan di salah satu kolah di Masjid Jami’ Tanjung yaitu kolah disebelah utara dimana Setiap malam jum’at Masjid Jami’ Tanjung terkadang ramai dikunjungi warga mulai dari jam 00.00 dini hari dan saat solat Jum’at, mereka berduyun-duyun dari berbagai sudut Pekalongan  untuk mandi di kolah bagian utara masjid tersebut. Sejak kolah itu di buat pada pertengahan abad 18- an tradisi mandi di kolah masjid tersebut berlangsung hingga sekarang, bahkan orang-orang dari berbagai wilayah di sekitar Desa Tanjung maupun dari kota sebelah seperti Pemalang ada yang mandi dengan air kramat itu. Masjid Desa Tanjung ini adalah masjid yang tertua di Kecamatan Tirto.

Pembuatannya pasti dipenuhi do’a dan zikir munajat kepada Allah agar air tersebut bisa bermanfaat bagi orang, tradisi mandi di kolah bagian utara Masjid Jami’ Desa Tanjung dilakukan ketika pukul 00.00-03.00 dini hari atau menjelang solat subuh, karena orang Jawa menganggap waktu yang” istimewa”. Air kolah tersebut diyakini orang-orang bisa menyembuhkan penyakit, menyembuhkan anak yang nakal, mempercepat jodoh, dll. kalaupun air tersebut bisa menjadi penyebab diqobulnya permintaan pada Allah bisa jadi karena pembuat kolah yaitu KH. Abdurrahman Sanjaya yang dianggap waliyullah sehingga tentu tidak sembarangan membuat kolah tersebut. Maka kembalilah kepada Allah, bahwa Allah yang berkehendak segala sesuatu. Sedangkan untuk kolah sebelah selatan tidak memiliki keistimewaan sehingga kolah di bagian selatan tidak digunakan untuk mandi, namun hanya digunakan untuk berwudhu.

Sumber      : 1. Agus Rif’an, 2021. Hasil wawancara pribadi: 26  Mei 2021. Pekalongan

2. Ahmad Shubur Bin KH.Moh.Masduqi Ghozali Bin KH. Moh.Ghozali sebagai cucu pendiri Masjid Jami’ Tanjung. Hasil wawancara pribadi: 21  Juni 2021. Pekalongan

Penulis : Nailil Muna (Prodi HKI IAIN Pekalongan)

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan