You are currently viewing Tak Banyak Yang Tahu! Ini 26 Fakta Menarik K.H Tolchah Mansyur, Pendiri IPNU

Tak Banyak Yang Tahu! Ini 26 Fakta Menarik K.H Tolchah Mansyur, Pendiri IPNU

Pada tahun ini, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) memasuki usia ke-67 tahun. Organisasi berhaluan Ahlussunah Waljamaah ini didirikan oleh K.H Tolchah Mansyur pada 24 Februari 1954. Sebagai kader IPNU tentu kita harus mengenal lebih dalam sosok K.H Tolchah Mansyur, tidak hanya sebatas nama saja. Referensi mengenai profil sang pendiri IPNU sendiri telah banyak beredar di Internet. Dan disini saya akan memberikan fakta-fakta menarik seputar K.H Tolchah Mansyur.

  1. Prof. Dr. K.H. M. Tolchah Mansyur adalah seorang akademisi, intelektual, politisi, aktivis, organisator, dan kiai asal Indonesia. 
  2. Tolchah Mansyur lahir di kota Malang, Jawa Timur pada 30 september 1930.
  3. Ia dilahirkan dari pasangan Siti Nur Khatidjah dan K.H Mansoer. Kedua orang tuanya berasal dari Madura yang merantau ke Malang.
  4. Ayah Tolchah Mansyur merupakan seorang pedagang kecil di Malang, ia bedagang tikar, keranjang, dan berbagai peralatan lain yang terbuat dari bambu. Sedangkan ibunya adalah putri dari keluarga ningrat dan saudagar kaya.
  5. Tolchah Mansyur merupakan anak kedua dari tiga bersaudara. Kakaknya, Ahmad Mansoer meninggal saat masih bayi, sedangkan adiknya, Mardhiyah lahir beberapa tahun kemudian. Selain itu, Tolchah juga mempunyai saudara seibu bernama  Raden Isman (Oesman) yang dilahirkan oleh pasangan Siti Nur Khatidjah dan Jalaludin Krama Asmara.
  6. Tolchah kecil adalah seorang bocah yang gemar membaca buku dan giat mencari ilmu.
  7. Ia menempuh pendidikan pertamanya di Madrasah Ibtidaiyah Nahdlatul Ulama Jagalan Malang (1937 – 1945).  Di tempat yang sama pula, ia kemudian melanjutkan ke jenjang Madrasah Tsanawiyah, hingga kemudian melanjutkan sekolah di Taman Madya Malang.
  8. Sejak remaja, Tolchah sudah aktif berorganisasi. Ia pernah menjabat sekretaris umum Ikatan Murid Nahdlatul Ulama (IMNU). Dan di usia 17 tahun (1947), Ia pernah dipercaya sebagai sekretaris Sabililah daerah pertempuran Malang Selatan, sehingga ia harus meninggalkan sekolahnya.
  9. Pada tahun 1951, Tolchah memutuskan merantau ke Yogyakarta untuk menuntut ilmu. Ia kuliah di Fakultas Hukum, Ekonomi, Sosial dan Politik (HESP), Universitas Gajah Mada.
  10. Pada 1953, Tolchah sempat berhenti kuliah karena ingin fokus pada kegiatan organisasinya, hingga kemudian masuk kembali pada 1959 dan lulus sebagai seorang sarjana pada 1963.
  11. Tolchah sendiri menyandang gelar doktor (Jurusan Hukum Tata Negara) di UGM Pada 17 Desember 1969.
  12. Selain menempuh pendidikan formal, Tolchah juga pernah menimba ilmu di pesantren. Ia mengaji posonan (bulan Ramadhan) ke beberapa pondok pesantren. Diantaranya, di Pondok Pesantren Tebuireng dan Pondok Pesantren Al-Hidayah, Soditan Lasem, dibawah asuhan K.H. Ma’shum.
  13. Semasa di Yogyakarta, Tolchah aktif di beberapa organisasi, seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI).
  14. Pada 24 Februari 1954, bersama dengan sahabat-sahabatnya yang lain, Tolchah mendirikan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) di Semarang sekaligus ditunjuk sebagai ketuanya yang pertama. Posisi itu terus bertahan hingga tiga kali muktamar selanjutnya. Tercatat, Tolchah menjadi ketua umum IPNU dari tahun 1954-1961.
  15. Tolchah menikahi gadis bernama Umroh Mahfudhoh (pendiri IPPNU), pada 5 desember 1957. Dari hasil pernikahan tersebut, mereka dikaruniai 7 anak, yakni Fajrul Falaakh, Zuhrufussurur, Nisrinun Ni’mah, Zunatul Mafruhah,Safrotul Machrusah,Choirotun Chisan, Dan Muhammad Romahurmuziy.
  16. Keluarga Tolchah adalah keluarga yang sangat peduli terhadap pendidikan. Hal itu terbukti dari semua anaknya yang minimal menempuh pendidikan sampai jenjang S1.
  17. Setelah tidak mengabdi di IPNU Tolchah melanjutkan karir sebagai ketua Pengurus Wilayah Partai NU Daerah Iistimewa Yogyakarta.
  18. Tolchah Mansyur juga pernah menjadi rais Syuriah PBNU tahun 1984 – 1986.
  19. Ia juga pernah beberapa kali memegang jabatan dalam pemerintahan terutama di Daerah Istimewa Yogyakarta.
  20. Tidak hanya di bidang politik, Tolchah juga merupakan seorang akademisi. Ia pernah menjadi dosen di IAIN Sunan Kalijaga (Sekarang UIN), IKIP Yogyakarta (Sekarang UNY), Akademi Militer di Magelang, IAIN Sunan Ampel Surabaya, Akademi Administrasi Negara, Universitas Hasyim Asy’ari Jombang, Universitas Nahdlatul Ulama Solo dan lain-lain.
  21. Tak hanya mengajar, Tolchah Mansyur juga pernah menjabat sebagai Dekan dan Rektor di beberapa perguruan tinggi tersebut.
  22. Tolchah  juga pernah menjadi anggota badan Wakaf IAIN Sunan Kalijaga dan Badan Penyantun Taman Siswa Yogyakarta.
  23. Dari sisi pemikiran, Tolchah adalah akademisi yang cerdas, kritis dan konsisten. Pemikirannya tentang ketatanegaraan Indonesia dikenal sebagai pemikiran yang sangat progresif.
  24. Disamping menjadi akademisi, Tolchah juga adalah seorang kiai, meskipun beliau bukan keturunan kiai. Kemampuan Tolchah dalam menguasai ilmu agama secara mendalam inilah yang membuat Tolchah dijuluki sebagai kiai. Ia sering mengadakan pengajian di kampung-kampung di berbagai daerah.
  25. Selain itu, Tolchah juga aktif menulis tentang berbagai persoalan sosial, keagamaan dan pendidikan.
  26. Pada hari Senin, 20 Oktober 1986, ulama sekaligus guru besar ini wafat dan makamkan di kompleks makam Dongkelan, Bantul, Yogyakarta. Letak makamnya tak jauh dari makam K.H. Munawir dan K.H. Ali Maksum Krapyak, Yogyakarta.

Penulis : Khairul Anwar

Referensi :

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan