You are currently viewing Siapa Sebenarnya K.H Hasyim Asy’ari ?

Siapa Sebenarnya K.H Hasyim Asy’ari ?

Tepat di hari ini, 14 Februari 2021, warga nahdliyin baik secara jam’iyah maupun jamaah ramai-ramai memberi ucapan ‘Selamat Hari Lahir Hadratussyaikh K.H Hasyim Asy’ari’ melalui sebuah pamflet yang diposting di media sosial. Tanggal 14 Februari memang dikenal sebagai tanggal lahir sang pendiri Nahdlatul Ulama (NU) tersebut. Lalu siapa sebenarnya sosok Hadratussyaikh K.H. Hasyim Asy’ari ?

Hadratussyaikh Muhammad Hasyim Asy’ari – yang akrab dipanggil Kiai Hasyim merupakan sosok ulama yang paling banyak diperbincangkan dalam dua abad terakhir. Ia merepresentasikan karakter ulama yang khas Indonesia. Selain sebagai sosok yang yang mempunyai kecerdasan intelektual, ia juga seorang organisatoris, pendidik bahkan warga masyarakat yang mempunyai etos kerja dan asketisisme yang tinggi.

Kiai Hasyim adalah sosok yang tumbuh dewasa dan menghabiskan masa hidupnya di pesantren. Pendidikan pesantren yang begitu khas telah membesarkannya menjadi sosok yang alim dalam hal keagamaan, juga mempunyai concern terhadap pemberdayaan umat.

Kiai Hasyim lahir pada hari Selasa, 14 Februari 1871, atau bertepatan dengan 24 Dzul Qa’dah 1287 H, di Pesantren Gedang, Tambakrejo, Jombang. Pesantren ini berada 2 kilometer ke arah utara kota Jombang, Jawa Timur. Keluarga Kiai Hasyim dikenal sebagai keluarga ulama kharismatik. Ayahnya, Kiai Asy’ari, adalah seorang ulama asal Demak dan kakeknya, Kiai Usman, adalah pendiri Pesantren Gedang.

Saat masih dalam kandungan, Nyai Halimah, ibu Kiai Hasyim, melihat tanda-tanda yang luar biasa. Pada suatu malam, ia bermimpi bulan jatuh dari langit dan hinggap di kandungannya. Tentu mimpi tersebut merupakan sebuah pertanda yang baik, bahwa anak yang akan lahir merupakan sosok istimewa di kemudian hari, yang mempunyai kecerdasan, talenta, dan bimbingan dari Allah SWT. Tanda-tanda lainnya, Kiai Hasyim berada dalam kandungan ibunya lebih kurang 14 bulan, yang juga ditafsir oleh banyak orang sebagai sebuah keistimewaan. Kiai Hasyim diramalkan akan menjadi tokoh besar, dan ramalan itu terbukti benar di kemudian hari.

Kiai Hasyim adalah putra ketiga dari 11 bersaudara. Ayahnya adalah Kiai Asy’ari asal Demak, seorang santri brilian di pesantren Kiai Usman. Ibunya, Nyai Halimah adalah putri Kiai Usman. Kiai Hasyim mempunyai 10 saudara, yaitu Nafi’ah, Ahmad Saleh, Radiah, Hasan, Anis, Fathanah, Maimunah, Maksum, Nahrawi, dan Adnan.

Kiai Hasyim diasuh oleh kakeknya, Kiai Usman hingga usia 6 tahun. Sejak kecil, ia ditempa dengan pendidikan dan lingkungan pesantren. Kiai Usman kerap mendidiknya agar mandiri dan tidak mudah bergantung pada orang lain.

Pada usia 13 tahun, Kiai Hasyim dipercaya oleh ayahnya, Kiai Asy’ari untuk mengajar para santri di sebuah pesantren yang dikenal dengan sebutan Pesantren Keras, pesantren yang terletak di Jombang yang didirikan oleh Kiai Asy’ari. Pesantren tersebut didirikan pada tahun 1876. Dinamakan Pesantren Keras karena lokasinya berada di Desa Keras.

Ayah Kiai Hasyim menganggap anaknya sudah mempunyai kapasitas keilmuan yang memungkinkan mengajarkan ilmunya kepada para santri. Meskipun ditunjuk sebagai guru pengganti, hal itu merupakan sebuah penghargaan atas kecerdasan Kiai Hasyim.

Meskipun ditunjuk mengajar di pesantren dalam usia yang masih sangat muda, Kiai Hasyim tidak pernah mengurungkan niat untuk mengarungi lautan ilmu. Pada usia 15 tahun, ia berinisiatif menimba dan menambah ilmu di pesantren lain. Mula-mula ia menjadi santri di Pesantren Wonorejo, Jombang. Lalu, ia melanjutkan perjalanan ilmiahnya ke Pesantren Wonokoyo, Probolinggo.

Kemudian, Kiai Hasyim melanjutkan pengembaraan intelektualnya di Pesantren Langitan, Tuban. Hingga akhirnya ia mendalami ilmu keagamaan di Pesantren Kademangan, Bangkalan, Madura, yang didirikan oleh Kiai Cholil bin Abdul Latif (Syekh Cholil Bangkalan). Kiai Cholil bin Abdul Latif sendiri merupakan seorang Kiai yang pertama kali mempopulerkan kitab babon bahasa Arab, yaitu Alfiyah Ibnu Malik, dan juga dianggap sebagai waliyullah.

Kembali ke Kiai Hasyim, di Pesantren Kademangan, ia menempuh pendidikan selama tiga tahun. Setelah itu, pada 1891, Kiai Hasyim melanjutkan petualangan ilmiahnya di Pesantren Siwalan, Panji, Sidoarjo, di bawah asuhan Kiai Ya’qub selama lima tahun. Hingga akhirnya, Kiai Ya’qub menyampaikan proposal untuk menikahkan putrinya, Khadijah, dengan Kiai Hasyim. Setelah melalui beberapa pertimbangan dan mendapatkan restu dari kedua orang tuanya, Kiai Hasyim memutuskan untuk menikah dengan Khadijah pada 1892.

Berselang beberapa bulan pasca pernikahan itu, Kiai Hasyim, istri dan mertuanya memutuskan untuk menunaikan ibadah haji. Selain untuk melaksanakan rukun islam yang kelima, ibadah haji pada saat itu juga dimanfaatkan untuk menimba ilmu.

Setelah menunaikan ibadah haji, Kiai Hasyim tidak langsung kembali ke tanah air. Ia menetap beberapa bulan untuk mendalami ilmu-ilmu keagamaan, terutama ilmu hadis yang merupakan salah satu bidang ilmu yang paling digemarinya.

Setelah 7 bulan berada di Mekkah, Kiai Hasyim tidak hanya dikaruniai ilmu. Lebih dari itu, ia dikaruniai seorang putra yang diberi nama Abdullah. Namun, tidak lama setelah kebahagiaan itu, Kiai Hasyim ditinggal oleh sang istri yang lebih dulu dipanggil oleh Allah SWT. Bahkan 40 hari kemudian, Abdullah, putra yang disayanginya juga meninggal dunia.

Setelah peristiwa yang menyedihkan tersebut, Kiai Hasyim pulang ke Tanah Air untuk mengantarkan mertuanya. Namun, tidak lama setelah itu, pada 1893, Kiai Hasyim memutuskan berangkat kembali ke tanah suci untuk menuntut ilmu dengan ditemani oleh adik kandungnya, Anis. Namun, Anis juga kemudian dipanggil oleh Allah SWT.

Ditinggal oleh adik tercinta semakin membuat Kiai Hasyim meningkatkan ibadahnya di Masjidil Haram. Setiap sabtu pagi, ia berziarah ke gua hira, yang terletak di Jabal Nur yang berjarak 10 Km dari tempat tinggalnya. Kegiatan tersebut dalam rangka napak tilas perjuangan Rasullullah SAW pada masa awal Islam, ketika beliau menerima wahyu pertama kali di gua tersebut.

Di samping itu, kegiatan rutin tersebut juga digunakan sebagai momen untuk mempelajari dan menghafalkan hadis-hadis Rasulullah SAW dan mengkhatamkan bacaan Al-quran.

Gairah Kiai Hasyim mencari ilmu sangat tinggi. Selama di Mekkah, sederatan syaikh ternama pernah menjadi gurunya, yaitu Syaikh Syuiab bin Abdurrahman, Syaikh Mahfudz al-Turmusi, Syaikh Khatib al-Minangkabawi, Syaikh Amin al-Aththar, Syaikh Ibrahim Arab, Syaikh Said al-Yamani, Syaikh Rahmatullah, dan Syaikh Rafadhal.

Kiai Hasyim belajar ilmu hadis dari Syaikh Mahfudz al-Turmusi, ulama asal Termas. Ia dikenal sebagai ulama ahli hadis yang mengajarkan kitab Shahih Bukhori di Mekkah. Dari Syaikh Mahfudz, Kiai Hasyim mendapat ijazah untuk mengajar kitab babon dalam hadis tersebut. Adapun dari Syaikh Ahmad Khatib, Kiai Hasyim belajar fikih mahdzab Syafi’i.  Konon, K.H. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, juga salah satu murid Syaikh Ahmad Khatib.

Di samping itu, ada juga sejumlah sayyid yang menjadi guru Kiai Hasyim, antara lain Sayyid Abbas al-Maliki, Sayyid Sulthan Hasyim al-Daghistani, Sayyid Abdullah al-Zawawi dan lain-lain.

Kegemaran dan kesungguhan Kiai Hasyim dalam menuntut ilmu membuahkan hasil yang manis. Ia ditunjuk sebagai salah satu guru di Masjidil Haram bersama para ulama Indonesia. Selama mengajar di Masjidil Haram, Kiai Hasyim mempunyai sejumlah murid, yang dua di antaranya adalah K.H. Wahab Hasbullah dan K.H. Bisri Syansuri (Jombang).

Pada tahun 1899, Kiai Hasyim memulai hidup baru. Ia menikahi Nafisah, putri Kiai Romli, dari Desa Karangkates, Kediri. Kiai Romli kagum terhadap sosok Kiai Hasyim yang dijumpainya saat beribadah haji di Mekkah.

Kiai Hasyim sendiri pulang ke tanah air setelah 7 tahun menimba ilmu di tanah suci.  Ia kembali ke tanah air dengan membawa banyak ilmu, yang ia amalkan dengan mengajar para santri di pesantren milik kakeknya maupun di pesantren milik ayahnya.

Pada tahun 1899 Kiai Hasyim juga mendirikan pesantren. Ia membeli sebidang tanah  dari seorang dalang di Dukuh Tebuireng, Jombang. Pendirian pesantren ini tidak berjalan mudah karena masyarakat disana yang tidak mengerti agama dan berperilaku buruk. Namun, dengan kegigihan Kiai Hasyim, akhirnya pesantren tersebut berhasil didirikan.

Pesantren Tebuireng harus diakui merupakan salah satu karya terbesar Kiai Hasyim dalam melestarikan tradisi pendidikan pesantren. Selama mengampu Pesantren Tebuireng, Kiai Hasyim melalui masa-masa yang sulit. Pada tahun kedua, Nyai Nafisah, istri tercinta dipanggil oleh Allah SWT. Akan tetapi, tidak lama kemudian, Kiai Hasyim mempersunting Nyai Nafiqah, putri Kiai Ilyas, pengasuh Pesantren Sewulan, Madiun. Dari pernikahan tersebut, ia dikaruniai 10 anak, yaitu Hannah, Khairiyah, Aisyah, Ummu Abdul Haq, Abdul Wahid, Abdul Hafidz, Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurah, dan Muhammad Yusuf.

Pada akhir tahun 1920, Nyai Nafiqah meninggal dunia. Kemudian, Kiai Hasyim menikah dengan Nyai Masrurah, putri Kiai Hasan, pengasuh Pesantren Kapurejo, Kediri. Dari pernikahan tersebut, Kiai Hasyim dikaruniai 4 anak, yakni Abdul Qadir, Fatimah, Khadijah, dan Muhammad Ya’qub.

Selama masa hidupnya, Kiai Hasyim senantiasa mengamalkan ajaran-ajaran Islam Ahlussunah Waljamaah. Puncak dari komitmennya dalam menyelamatkan umat dari kubangan kebodohan, kemiskinan, dan ketidakadilan adalah mendirikan organisasi sosial-keagamaan yang diberi nama Nahdlatul Ulama. Organisasi yang didirikan pada 31 Januari 1926 ini tidak bisa dilepaskan dari peran dan kiprah Kiai Hasyim bersama Kiai Abdul Wahab Hasbullah serta para ulama lain.

Kiai Hasyim disepakati sebagai rais akbar, sedangkan H. Hasan Gipo ditunjuk sebagai ketua tanfidziyah. Yang selalu ditekankan oleh Kiai Hasyim dalam membina umat adalah kerelaan untuk berkorban demi kepentingan umum, jujur dan adil.

Kiai Hasyim dan sejumlah ulama NU lainnya juga turut serta dalam memperjuangkan kemerdekaan Republik Indonesia. Pada 22 Oktober 1945, Kiai Hasyim bersama sejumlah ulama di kantor NU di Jawa Timur mengeluarkan sebuah resolusi jihad untuk melawan pasukan penjajah. Seluruh umat Islam terbakar semangatnya untuk melakukan perlawanan pada tanggal 10 November 1945. Peristiwa tersebut dikenal dengan hari Pahlawan Nasional.

Kiai Hasyim menolak mundur dalam menghadapi pasukan penjajah. Intinya, jangan sampai ada ketakutan sejengkal pun dalam menghadapi penjajah. Detik-detik akhir hayatnya pun dikisahkan dalam kondisi mengawal kemerdekaan. Pada bulan Ramadan, tepatnya selepas sholat tarawih, Kiai Hasyim rutin memberikan pengajian kepada para Muslimat. Tetapi, karena ada tamu utusan dari bung Tomo dan Jenderal Sudirman, yang ditemani oleh Kiai Ghufran, pengajian tersebut ditunda hingga esok harinya.

Pada umumnya, pesan yang dibawa bung Tomo adalah soal dinamika pergerakan dan perjuangan melawan penjajah. Pada saat itu, Kiai Ghufran mengisahkan kepada Kiai Hasyim perihal peristiwa yang terjadi di Singosari, Malang, dengan banyaknya korban dari pihak rakyat yang berjatuhan.

Mendengar cerita tersebut, tiba-tiba Kiai Hasyim berkata, “Masya Allah….masya Allah” ungkapan ini sebagai sebuah keprihatinan dan kepasrahan. Setelah mengucapkan hal itu, ia tidak sadarkan diri dan jatuh pingsan. Rupanya peristiwa tersebut merupakan akhir dari hidup seorang kiai besar yang telah mendedikasikan hidupnya untuk umat dan bangsa.

Dalam suasana mempertahankan kemerdekaan dan membela tanah air, Kiai Hasyim meninggal dunia karena mengalami pendarahan otak. Ia meninggal pada tanggal 25 Juli 1947 M atau 7 Ramadan 1366 H pada pukul 03.00. Semua orang berduka atas berita tersebut.  Namun, karya dan jasanya telah memberikan sumbangsih yang sangat berarti untuk cita-cita keislaman dan kebinekaan dalam keindonesiaan. Kiai Hasyim sendiri dimakamkan di Tebuireng, Jombang.

Sebagai seorang ulama panutan, soko guru, Hadratussyaikh KH Muhammad  Hasyim Asy’ari tidak hanya pandai berbicara di dalam mushola, kelas-kelas pengajaran, atau mimbar-mimbar pengajian umum, tapi juga memiliki tradisi kepenulisan yang kuat.

Sejumlah disiplin keislaman di bidang akidah, akhlak, hingga ilmu fikih ditulis dengan serius. Dan hingga sekarang masih dikaji di banyak pesantren, utamanya di Jawa. Salah satu hasil karya K.H. Hasyim Asy’ari adalah kitab “Adab al-alim wal Muta’allim fi maa yahtaju Ilayh al-Muta’allim fi Ahwal Ta’limihi wa ma Yatawaqqafu ‘alayhi al-Mu’allim fi Maqaamati Ta’limihi” (etika orang berilmu dan pencari ilmu).

Bagian pertama dalam kitab tersebut membahas tentang keutamaan ilmu, keutamaan belajar, dan mengajarkannya. Bagian kedua membahas tentang etika seseorang dalam tahap pencarian ilmu. Bagian ketiga membahas tentang etika seseorang ketika sudah menjadi alim atau dinyatakan lulus dari lembaga pendidikan.

Oleh : Khairul Anwar, dirangkum dari buku berjudul ‘Hadratussyaikh Hasyim Asy’ari : Moderasi, Keumatan, dan Kebangsaan. Karya Zuhairi Misrawi.

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan