You are currently viewing Refleksi Harlah Ke-98 NU  : Komitmen IPNU-IPPNU Menjaga Tradisi Nahdliyin

Refleksi Harlah Ke-98 NU : Komitmen IPNU-IPPNU Menjaga Tradisi Nahdliyin

Sebentar lagi, Nahdlatul Ulama (NU) akan memasuki usia 98 tahun sesuai dengan penanggalan hijriah. Oleh sebab itu, Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU), sebagai salah satu badan otonomnya, harus istiqomah dalam menjaga, merawat serta melestarikan tradisi-tradisi warga Nahdliyin.

Seperti yang telah kita ketahui bersama, hari lahir (Harlah) NU ke-98 sesuai dengan penanggalan hijriah akan jatuh pada malam Ahad 16 rajab 1442 atau bertepatan dengan tanggal 27 Februari 2021. Itu artinya, dua tahun lagi, NU genap berusia 100 tahun alias satu abad.

Untuk bisa mencapai usia seperti sekarang ini, NU harus melewati perjalanan panjang yang bisa dibilang cukup melelahkan. Sejak didirikan pada 31 Januari 1926 M atau 16 Rajab 1344 H, NU telah melalui berbagai fase dalam kehidupan. Tidak mudah bagi NU untuk bisa bertahan sampai sejauh ini.

Dalam perjalanannya, NU sering ditimpa dengan berbagai macam cobaan. Salah satunya adalah dengan adanya pihak-pihak atau organisasi yang tidak senang dengan keberadaan NU. Mereka kerap memfitnah dan mengintimidasi. Kendati demikian, organisasi yang memusuhi NU itu justru kualat, mereka malah yang kena getahnya.

Bertahan lamanya NU sampai sekarang tak lain dan tak bukan adalah berkat pertolongan Allah SWT. Hal itu bisa terjadi karena para pendiri NU itu orang yang mukhlis, yang tidak ada niat apa-apa, kecuali mencari ridho Allah SWT.

Ada banyak faktor mengapa NU harus didirikan,  salah satunya adalah untuk tetap melestarikan, menjaga, serta mengembangkan faham Ahlussunah Waljamaah (Aswaja).

Aswaja merupakan falsafah hidup yang membentuk sistem keyakinan, metode pemikiran dan tata nilai. Dengan cakupan itu, Aswaja menjadi sangat luas dan menyeluruh, sehingga bisa disebut way of life (cara hidup) sebagaimana Islam itu sendiri.

NU didirikan sebagai jam’iyah diniyah al-ijtima’iyyah (organisasi keagamaan dan kemasyarakatan). Jamiyah ini dibentuk untuk menjadi wadah perjuangan para ulama dan para pengikutnya, yang di dalamnya memiliki konsep dan ajaran aswaja.

Dengan demikian bisa dikatakan bahwa NU adalah organisasi kemasyarakatan yang mendapat ridho dari Allah SWT. Bahkan, salah satu ulama NU, K.H Hasan Genggong pernah mengatakan : “Barang siapa yang menolong NU, maka dia hidup beruntung di dunia dan di akhirat. Siapa yang memusuhi NU, dia akan hancur”.

Kalimat tersebut cukuplah menjadi pengingat bagi kita, bahwa sudah saatnya kita sebagai pelajar NU untuk bersama-sama menjaga serta merawat Nahdlatul Ulama.

Apalagi semakin berkembangnya zaman, semakin marak pula paham-paham radikalisme dan ekstremisme. Di tengah gempuran paham-paham yang dapat memecah belah persatuan, tentunya sudah menjadi kewajiban kita untuk ikut serta dalam menjaga eksistensi NU pada umumnya dan bangsa Indonesia pada khususnya.

Kaum-kaum yang ingin menghancurkan NU dan NKRI harus kita cegah. Dengan cara bagaimana? Salah satu cara yang bisa kita lakukan adalah dengan tetap menjaga dan merawat tradisi-tradisi serta nilai keagamaan yang biasa dilakukan Nahdliyin (sebutan bagi warga NU).

Tradisi-tradisi tersebut antara lain yasinan, tahlilan, manakiban, maulidan, dibaan, barzanzi, ziarah kubur, dan lain sebagainya. Tradisi yang berkembang di masyarakat adalah karakter Islam Nusantara. Karakter dan praktik yang dilakukan umat Islam di Nusantara itulah ciri khas keagamaan NU.

Di momen harlah yang ke-98 NU ini mari kita renungkan sejenak. Siapa lagi kalau bukan kita yang akan menjaga dan merawat tradisi yang telah diajarkan oleh ulama-ulama kita terdahulu.

Baik secara Jam’iyah maupun Jamaah sudah saatnya ikut serta melestarikan tradisi NU yang ada. Jangan sampai kesibukan kita dalam berorganisasi membuat kita lupa, bahwa ada hal yang jauh lebih penting yakni merawat dan melestarikan tradisi keagamaan NU.

Bagi IPNU-IPPNU, di semua tingkatan, terus galakkan acara-acara yasinan, tahlilan, maulidan dan lain sebagainya. Ajak masyarakat untuk ikut serta di dalamnya. Karena secara tidak langsung kita turut andil mengedukasi masyarakat tentang arti pentingnya merawat tradisi.

Dengan tetap menjaga dan merawat tradisi, kita telah ikut serta dalam menjaga NU dan NKRI. NU bisa bertahan lama karena masyarakatnya gemar melakukan-melakukan hal-hal tersebut.

Coba bayangkan jika dalam 10 tahun kedepan warga NU tidak ada lagi yang baca yasin, tahlil dan sebagainya karena terpengaruh dengan paham-paham radikalisme dan ekstremisme. Apa yang akan terjadi? Tentunya masa depan NU juga terancam. Eksistensinya tentu sudah mulai goyah.

Maka dari itu, kita sebagai kader muda, sebagai IPNU-IPPNU harus terus merawat dan melestarikan tradisi-tradisi yang ada. Karena kalau bukan kita siapa lagi coba?  Prinsip yang harus kita pegang ialah al-muhafadhotu ‘ala qodimis sholih wal akhdzu bil jadidil ashlah, yakni ‘Memelihara yang lama yang baik dan mengambil yang baru yang lebih baik’.

Penulis : Khairul Anwar

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan