You are currently viewing PERAN MILENIAL DALAM MENYAMBUT FENOMENA BONUS DEMOGRAFI DI TAHUN EMAS

PERAN MILENIAL DALAM MENYAMBUT FENOMENA BONUS DEMOGRAFI DI TAHUN EMAS

Di era globalisasi dan perkembangan zaman, Bangsa Indonesia akan mengalami sebuah fenomena yang mana angka usia produktif meningkat. Yang dimaksud usia produktif adalah seseorang yang sudah memiliki produktivitas dalam hidupnya. Usia produktif tersebut antara usia 16 sampai 60 tahun.  Fenomena tersebut di sebabkan saat ini angka usia anak-anak di indonesia semakin meningkat dan angka usia produktif masih terbilang sedikit. Padahal angka usia produktif saat ini di targetkan dapat menopang perekonomian rumah tangga maupun perekonomian bangsa.

Fenomena yang akan dialami Bangsa Indonesia tersebut adalah Bonus Demografi. Menurut Sri Moertiningsih Bonus Demografi adalah dampak struktur umur penduduk suatu bangsa. Mulanya suatu umur di tandai dengan banyaknya usia belum produktif. Di lain pihak proporsi penduduk usia kerja tidak terlalu besar.

Menurut BAPPENAS, Fenomena Bonus Demografi tersebut akan terjadi di Indonesia pada tahun 2030-2040. Tahun tersebut sering digadang-gadang dengan sebutan tahun emas. Sebutan tahun emas tersebut sangat pantas untuk tahun bonus demografi. Hal tersebut dikarenakan pada tahun tersebut apabila dimanfaatkan dengan baik oleh Bangsa Indonesia, maka Bangsa Indonesia akan menjadi negara yang sangat maju dengan jumlah penduduk golongan terbanyak. Pemanfaatan tahun tersebut dapat dilakukan oleh Bangsa Indonesia dengan cara menyediakan lapangan kerja yang sesuai dengan jumlah usia produktif yang ada.

Selain itu, generasi milenial juga mempunyai peran penting dalam menyongsong bonus demografi di tahun emas tersebut. Peran dari generasi milenial yang pertama dari sektor pendidikan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS), profil penduduk usia produktif di Indonesia masih didominasi dengan penduduk lulusan sekolah dasar. Dari data tersebut dapat diartikan bahwa peran milenial harus mempunyai pendidikan yang tinggi guna menghadapi bonus demografi. Selain berpendidikan yang tinggi, generasi milenial dituntut untuk mempunyai Soft Skill untuk meningkatkan kualitas dirinya.

Yang Kedua, peran milenial di bidang Teknologi. Di bidang ini peran milenial juga tidak kalah penting. Generasi milenial dituntut untuk memanfaatkan teknologi dengan sebaik mungkin. Hal tersebut disebabkan menurut kementerian perindustrian akan ada potensi ekonomi digital akan meningkatkan nilai tambah terhadap PDB Nasional sebesar 150 Miliar Dolar AS. Sehingga itu dapat dimanfaatkan oleh generasi milenial untuk membawa Bangsa Indonesia dalam menyukseskan fenomena bonus demografi.

Yang Ketiga, dalam bidang ekonomi. Kontribusi generasi milenial tercermin dari nilai PDB Ekonomi Kreatif dari tahun ke tahun. Menurut data dari Badan Ekonomi Kreatif, PDB Sektor Ekonomi Kreatif meningkat sekitar 41% selama kurun waktu 4 Tahun. Selain itu, Generasi Milenial di tuntut untuk memiliki jiwa Entreprenuer atau jiwa berwirausaha. Karena menurut BPP HIPMI jumlah pengusaha muda saat ini masih sedikit, yaitu hanya 2% sampai 3% saja. Sedangkan Bangsa Indonesia mempunyai target pada tahun 2045 jumlah pengusaha muda mencapai 10% dari jumlah angkatan kerja. Sehingga generasi milenial dituntut kreatif dalam menemukan peluang usaha untuk menyukseskan fenomena bonus demografi.

Berdasarkan 3 peranan generasi milenial tersebut. Penulis mengharapkan untuk generasi milenial harus sadar, bahwasanya generasi milenial sangat dibutuhkan oleh bangsa. Karena masa depan Bangsa Indonesia ada di tangan penerusnya. Sedikit mengutip kata-kata Bung Karno “Berikan 10 pemuda niscaya aku guncangkan dunia”.

Oleh : Afrizul Maulana (IPNU Karangjompo Tirto)

Editor : K. Anwar

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan