You are currently viewing Peradaban Menulis

Peradaban Menulis

Menulis merupakan sebuah kegiatan mengabadikan sebuah peristiwa atau memberi informasi melalui media cetak ataupun digital saat ini. Namun jauh sebelum terciptanya teknologi canggih seperti saat ini, gaya penulisan mengalami berbagai bentuk dan cara.

Menulis bagi bangsa nusantara amatlah asing, terlebih dipandang dari rakyat bawah yang notabene hanya melakukan kehidupan sehari-hari dengan mengindahkan segala peraturan yang telah dibuat, terkait tulis menulis biasanya pihak pemerintah menunjuk seseorang untuk menjadi juru tulis kerajaan.

Sebelum membahas tentang peradaban menulis, perlu diketahui awal mula munculnya aksara. Mungkin sudah biasa di dengar atau mungkin membaca dalam buku pelajaran sejarah waktu SMP mengenai temuan gambar-gambar di Goa Altamira Spanyol Utara yang kemudian menjadi Piktograf. Piktograf adalah simbol yang mewakili kegiatan seseorang seperti halnya rambu rambu lalulintas ataupun simbol dalam kamar kecil sebagai penunjuk ruang pria atau wanita. Piktograf ini selanjutnya digunakan oleh Suku Indian atau Amerika, suku Yukagir di Siberia, dan Pulau Paska (Pasifik timur).

Perkembangan penulisan bahasa mengalami perubahan yang signifikan dan menjadi catatan revolusi manusia terbesar sepanjang sejarah pada tahun 4000 SM dengan berkembangnya hieroglif di Mesir yang dalam bahasa Yunani berarti ukiran suci, ukiran suci tersebut digunakan sebagai Bahasa formal masyarakat Mesir.

Peradaban tulisan ini juga berkembang pesat di Sumeria yang telah mengenalkan simbol angka dan simbol untuk manusia, hewan dan benda tertentu. Tulisan Sumeria bercirikan runcing, dibebabkan alat tulis yang di sebut Stylus atau Gerip meninggalkan sisa patahan setelah digoreskan.

Perkembangan semakin pesat kala Persia berkuasa, bahkan dari Persia ini telah menurunkan kebijakan aksara silabis yang sudah menggabungkan satu huruf melambangkan satu suku kata yang ketika dirangkai menjadi kata-kata. Seperti halnya aksara China dan Jepang atau yang serumpun. Hingga di abad 9 SM berkembangnya aksara alphabet dari Yunani yang terdiri dari 24 huruf untuk menuliskan sebuah Bahasa. Alphabet ini merupakan yang tertua dan sejak abad ke 2 SM difungsikan sebagai simbol angka dalam Bahasa Yunani.

Sebaik apapun peradaban pasti akan kalah dengan yang namanya kekuasaan, termasuk peradaban yang berkembang di Yunani yang kemudian digantikan secara struktur oleh Romawi yang memeperkenalkan alphabet romawi atau biasa dikenal dengan aksara latin. Meski aksara Yunani tetap masyhur di negaranya, namun penyebaran aksara latin ini semakin meluas hingga masuk ke Indonesia pada abad ke 16 dengan misi Kristenisasinya. Hingga saat ini aksara latin ini masih populer bahkan di Indonesia seperti sudah mendarah daging tentang aksara latin ini.

Sempat merasa sakit hati, saat awal masuknya aksara latin ke Indonesia yang waktu itu sebagai Nusantara dan kebetulan masih menjamu tamu agung dari salah satu negeri pesakitan di Benua Biru selama 3,5 Abad. Bagaimana tidak sakit, karena waktu itu masyarakat Nusantara dianggap orang yang bodoh dan tak bisa baca tulis, padahal jauh sebelum aksara latin, masyarakat Nusantara telah mengenal dan mengamalkan aksara Jawa, Sunda dan aksara dari suku-suku yang bertebaran di seluruh Nusantara.

Aksara jawa dan sunda berkembang dari aksara Pallawa yang biasa digunakan secara masif di India selatan sejak 400 SM, lantas perkembangan Semit juga telah membawa Nusantara pada pengenalan Bahasa Arab dan Persi. Sehingga dalam perkembangan Hindu Budha aksara Pallawa ini mengilhami aksara Kawi atau Jawa kuno dan di era perkembangan Islam berkembanglah aksara arab yang bercampur dengan gaya Persi serta Jawa, kemudian di sebut sebagai aksara Jawi. Sampai saat ini aksara tersebut masih tenar dikalangan pesantren dengan nama Arab Pegon. Meski tercampur dengan bawaan aksara yang hadir baik Pallawa dan Semit, kenusantaraannya itu masih kentara untuk dirasakan.

Baiklah, pembahasan kali ini akan konsen pada peradaban menulis. Terkadang terfikir kenapa sih untuk mencari sumber literasi tekait Nusantara amat sulit ? tidak seperti bangsa lain yang mudah menemukan literasinya ?

Jawabannya adalah karena nusantara merupakan bangsa yang Adiluhung,

Kok bisa demikian?

Ceritanya gini, dulu bangsa Nusantara memang terkenal dengan keramahan dan kelembutannya, namun ada satu hal yang lupa dicirikan pada bangsa Nusantara, yaitu perihal kesaktiannya, baik kesaktian secara kanuragan ataupun spiritual. Dari kesaktian itu kebutuhan tulis menulis amatlah jarang digunakan. Nenek moyang Nusantara lebih mengutamakan komunikasi daripada ber-literiasi, meski dalam tradisi nusantara juga di kenal yang namanya prasasti. Prasasti ini digunakan untuk informasi masa lalu terkait peratutan pemerintahan atau kegiatan masyarakat yang dinilai penting untuk di prasastikan.

Seringkali dalam menginformasikan suatu hal, moyang Nusantara lebih pada berkisah atau tutur tinular, yang sekarang ini berkembang menjadi cerita rakyat. Namun bukan berarti kepenulisan itu tidak ada sama sekali, terbukti di tahun 1607 sudah ada penulisan Pararaton, setelahnya ada pula Negara Krtagama dan lain sebagainya. Namun  itu semua masih bersifat internal, dalam artian itu ditulis oleh para beliau yang mempunyai jabatan khusus kesusastraan di kerajaan, kalaupun tidak, biasanya beliau merupakan manusia linuwih.

Perkembangan literasi berkembang pesat di era Belanda, karena gaya mereka yang administratif membuat mereka menjadi negara dengan administrasi terbaik di dunia, terbukti dalam catatan Dagh Register Van Nedherland Indiche tercatat secara rapih peristiwa yang terjadi di Nusantara. Hal ini pula yang kemudian menyadarkan para pejuang kemerdekaan dari awal Mataram hingga merdeka tentang pentingnya menulis setiap peristiwa yang nantinya bisa diarsipkan dan sebagai sumber data. Meski harus merelakan aksara nusantara saat ini harus porak poranda dihadapan imperium aksara latin.

Tak perlu disesali secara mendalam, yang terpenting kiprah untuk memajukan bangsa saja telah cukup untuk menopang putra bangsa untuk menulis. Jika berkecenderungan untuk memperkenalkan peradaban nusantara yang telah sedikit terkikis, bisa melakukan penulisan sejarah agar putra bangsa tahu bahwa bangsa ini punya sejarah, bukan bangsa yang di ada adakan demi mengisi perut kosong lewat jalur keculasan.

Atau bisa juga menulis tentang kisah cinta. Sebagai kawula muda pastinya tahulah rasanya jatuh cinta, atau merasakan sakit karena cinta, bisa dijadikan cerpen bahkan Novel. Intinya untuk memulai peradaban bangsa suka menulis harus menulis. Ingin peradaban bangsa ini maju harus maju. Dan yakinlah, saat perjuangan ini sungguh dilakukan dengan tulus, pasti akan berakhir dengan kebahagiaan.

Oleh : Emelka

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan