You are currently viewing Ngurusi Pengurus

Ngurusi Pengurus

Sinar adalah anak yang rela mengurus ibunya yang lumpuh meski usianya masih tergolong dini. Di usia kelas 1 SD ia harus siap melayani kebutuhan ibunya, dari memberesi tempat tidur, menyiapkan sarapan dan juga menyiapkan dirinya untuk sekolah. Rutinitas kesehariannya tidak seperti anak pada umumnya yang mempunyai waktu bermain cukup. Ia harus membagi waktu belajar dan menyambung hidup bersama ibunya yang lumpuh.

Kisah tersebut mungkin sudah demikian populer pada tahun 2010 hingga menginspirasi Band termasyhur waktu itu ST12 untuk membuat lagu tentangnya yang berjudul “Sinar Pahlawanku” bahkan dari lagu tersebut sempat mengispirasi salah seorang mahasiswa Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur sebagai Studi Skripsinya mengenai Studi semiotika lirik lagu Sinar Pahlawanku.

Maksudnya apa? kok enggak nyambung ya dengan judulnya. Apa hubungannya antara judul Urus dengan lirik sebuah lagu? kurang lebih demikian bagi anda yang kurang cermat dalam memahami secercah cerita di atas. Hehe…

Mungkin bisa di siapkan dulu kopinya, untuk kemudian melanjutkan membaca.

Kita seringkali terlalu fokus pada nama atau istilah yang telah terpampang dalam sebuah label, judul, merk atau tampilan awal meski sebetulnya itu hanyalah sebuah penarik minat fantasi anda saja sebetulnya.

Artinya dalam menjalani banyak hal kita lebih sering melakukan sesuatu berpatokan dengan keabsahan kesepakatan khalayak umum, tanpa meemfokuskan pada apa yang seharunya dilakukan.

“Urus” sebagaimana yang penulis letakkan pada judul memiliki banyak arti. Dalam KBBI sendiri ada empat arti sebagai kata kerja, yaitu Rawat, Atur, Piara dan Pelihara. Dari empat arti ini akan menelurkan beberapa kata turunan, diantaranya adalah Mengurus, Urusan, Pengurus, Terurus dan masih banyak lagi. Bagi anda yang merasa kurang tepat, bisa kok di cek di KBBI online. Syukur syukur nanti bisa di komenkan pembenarannya di kolom komentar. Hehe..

Oke sekarang penulis akan sedikit serius mengenai judul di atas !

Pada intinya penulis ingin menyampaikan bahwasanya ketika setiap hal yang mengenai “urus” dilakukan dengan baik dan benar tentunya dengan penuh tanggung jawab, akan menghasilkan sebuah peristiwa atau pencapaian yang tidak mengcewakan. Bagi pelaku atau orang yang melakukan urusan artinya sebagai pengurus, haruslah mepunyai komitmen yang jelas dengan hal yang diurusnya. Tidak bisa dibenarkan sebagai pengurus mengutamakan alasan sebagai alat legitimasi ketidak mampuan untuk melakukan upaya kepada yang diurusnya.

Dengan bahasa yang lebih simpel bisa diungkapkan bahwa yang namanya pengurus harus siap menghadapi apa yang semestinya di tanggungnya. Sebagai contoh adalah kisah sinar yang yang mengurus ibunya, ia rela meninggalkan masa masa bermain demi satu tujuan yang mulia, yaitu mengurus ibunya. Hal ini termasuk dalam kategori tersadar pada kondisi dimana seseorang akan mencapai kedewasaan meski usia belum bisa dianggap sebagai dewasa.

Organisasi merupakan kumpulan orang yang mempunyai urusan masing masing dan juga urusan yang terfokus pada organisasi itu sendiri. Sehingga orang yang berkecimpung dan menjalankan guliran roda organisasi di sebut sebagai pengurus. Pengurus ini bertugas ngurusi organisasi tersebut menuju kondisi yang lebih baik, dan lebih maju.

Masalahnya apakah semua pengurus itu mengurusi?

Sebelum dilanjutkan, penulis sarankan untuk menyeruput kopinya terlebih dahulu. Biar enggak terlanjur dingin, karena dia yang sikapnya dingin saat ini adalah dia yang pernah hangat namun engkau lewatkan begitu saja. Hehe…

Oke kita lanjutkan !

Setiap organisasi mempunyai aturan rumah tangganya masing masing, organisasi A, mungkin beda aturan dengn organisi B, begitu pula dengan C, D dan seterusnya. Namun terkait dengan problema yang ada biasanya tak jauh beda yaitu mengenai Kepungurusan. Pengurus yang masuk dalam Surat Pengesahan ataupun Surat Kepengurusan merupakan pengurus formal dengan struktur yang telah di tentukan arah dan tupoksinya. Sedangkan nama yang tecantum dalam SP/SK atau nama lain yang serupa tidak sepenuhnya bisa menjalankan sesuai tupoksinya. Inilah kebanyakan problem dalam berorganisasi.

Dalam kaidah agama juga di sebutkan beberapa tentang kualifikasi setiap personal yang baik dalam menjalani agama atau bertanggung jawab dengan aturan agama menuju ridha Allah Swt. Mungkin salah satu ayat dalam Alquran ini bisa menjadi sebuah indikator pengurus yang ideal.

Dalam Q.S Faathir ayat 32, disitu tercatat ada tiga golongan dengan kualifikasi terbaik hingga terendah diantaranya adalah yang pertama ada golongan Dzolimun Linafsih yang artinya menganiaya diri sendiri. Contohnya adalah pengurus yang senang ketika namanya di tulis dalam SP/SK namun sebatas senang saja tanpa melaksanakan tupoksinya, atau jika dalam bahasa jawanya “urun aran otog mek katok sangar dedi pengurus”.

Kemudian ada golongan yang kedua adalah golongan Muqtashid artinya setengah setengah. Contohnya mereka pengurus yang namanya masuk dalam SP/SK, suka ngumpul dan juga suka mengkritik, namun ketika action tidak pernah kelihatan.

Kemudian golongan yang terbaik adalah saabiqun Bil Khoirot yang artinya cepat tanggap dalam kebaikan, contohnya pengurus yang namanya masuk dalam SP/SK dan selalu melaksanakan apa yang menjadi tupoksinya.

Kira kira anda masuk dalam golongan mana ya?

Oke… kopinya bisa kembali dinikmati, sembari merenungi golongan kita masing masing, termasuk penulis juga masih merenungi diri digolongan manakah penulis berada saat ini? dengan penuh harapan semoga bisa terentaskan dari dua golongan yang pertama menjadi golongan yang terbaik. Amiin…

Dalam banyak hal wacana struktural menjadi landasan yang kaku demi terwujudnya sebbuah capaian yang besar, hal ini di karenakan konsen setiap pola pikir pengurus di pilah secara parsial. Artinya pengurus harus bergerak menjadi sesuatu hal yang mungkin bukan ahlinya namun terlanjur terposisikan sebagai pengisi pos kosong pada formasi struktur organisasi. Hal ini merupakan salah satu sebab munculnya golongan pertama dan kedua meski tidak seluruhnya demikian. Karena ada pula mereka yang memang tidak mau berkiprah sebagaimana posisinya meski sebetulnya mampu dan luang.

Sempat viral sebuah Quote yang di suarakan oleh Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur KH. Marzuqi Mustamar yang mengatakan bahwa intinya yang di anggap menjadi santri Mbah Hasyim Asy’ari adalah orang yang mengurusi NU, bukan Pengurus.

Penulis mencoba menerka bahwa maksud beliau merupakan golongan golongan pengurus seperti ulasan penulis di atas. Adanya pengurus yang tidak aktif Ngurusi menjadikan roda organisasi tidak berjalan dengan baik, sementara orang yang mengurusi meski tidak masuk dalam kepengurusan formal akan lebih dirasakan manfaatnya.

Analogi Sinar yang merawat ibunya disisi ini nampak jelas, bukan jabatan seseorang sebagai perawat formal di rumah sakit yang menjadi fokusnya namun dampak kemanfaatannya yang lebih di harapkan. Lebih lagi bila jabatan yang telah berbaur dengan aturan birokrasi, malah cenderung ribet dan secara fungsi sangat minim.

Dengan adanya kemanfaatan yang lebih bisa dirasakan pasti keberlanjutannya akan menarik sesuatu yang lebih besar, seperti kisah Sinar yang akhirnya mendapatkan perhatian lebih, bukan hanya dari pemerintahan saja bahkan merambah ke infotainmen hingga akademisi.

Mungkin itulah yang dinamakan barokah. Dengan kita melakukan kebaikan, maka akan menjadi berkah ( bertambahnya kebaikan ) dari berbagai sisi.

Uruslah apa yang seharusnya engkau urus, karena urus adalah kata kerja, bukan kata manja!

Pekalongan, 30 Okrtober 2021

Penulis: Emelka 

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan