Nafsu, Akal, dan Hati Tiga Sekawan yang selalu Bersama

Sungguh anugerah dari Sang Maha Kuasa yang diturunkan kepada Wakilnya dimuka bumi ini yaitu manusia. Dia dianugerahkan tiga alat penting, dimana tidak ditemukan lagi tiga alat itu dimakhluk selain Manusia, entah itu hewan, tumbuhan, setan, bahkan jin dan malaikat. Melihat hal tersebut, rasanya kita merasa hebat dan bangga karena kita punya apa yang tidak dipunyai oleh makhluk lainnya. Namun rasa hebat dan bangga itu tidak akan berarti apa-apa ketika manusia tidak tahu bagaimana cara mengoptimalkan kerja tiga sekawan tersebut. Ketika manusia ‘buruk’ maka seketika derajat dia akan berada di bawah hewan. Dan ketika manusia ‘apik’ maka seketika juga ia berada pada derajat diatas malaikat.

Tentunya buruk/apiknya sebuah perbuatan manusia itu tidak lepas dari peran ketiga sekawan tadi. Dalam Teori Kepribadiannya Sigmund Freud yaitu Psikoanalisis terdapat tiga ‘unsur’ dalam diri manusia yang menentukan ia bertindak. Pertama ID, yaitu keadaan dimana seseorang menginginkan sesuatu. Dalam Islam kita bisa fahami ID sebagai Hawa Nafsu. Kedua EGO, yaitu upaya bagaimana apa yang diinginkan itu bisa tercapai. Disinilah Akal berada. Ketiga SUPEREGO, yaitu sesuatu yang menengahi antara ID dan EGO, dalam hal ini SUPEREGO-lah yang memerhatikan nilai dan norma dalam masyarakat. Oleh karena itu, disinilah singgasanahnya Hati. Contoh: “ketika seorang individu ingin makan, sedangkan ia tidak mempunyai uang untuk membeli makanan tersebut. Dalam hal ini individu tersebut mempunyai berbagai cara untuk mendapatkan makanan tersebut, mulai dari cara yang halal sampai yang haram. Lalu ia malah memilih untuk bekerja terlebih dahulu untuk bisa dapat uang, dan uangnya tersebut bisa ia gunakan untuk membeli makanan tersebut.”

Dalam contoh diatas rasa ingin makan (ID), dan lalu upaya untuk mendapatkan makanan tersebut ada berbagai cara dari halal-haram (SUPEREGO), namun ia malah memilih dengan cara yang halal, yakni bekerja (EGO).

Oleh karena itu kaitannya dengan Esensi Akal, Hati, dan Nafsu adalah fitrah manusia. Tuhan memberikan akal kepada manusia agar manusia selalu mengupgrade kualitas diri kita. Tuhan memberikan Nafsu kepada manusia agar manusia mampu tumbuh dan berkembang. Dan Tuhan juga memberikan Hati agar manusia selalu dekat dengan-Nya.

Apabila Hati (Superego) ini tidak berfungsi secara optimal, maka ia akan ‘jatuh’ dibawah derajat hewan. Lalu ketika Hati (Superego) berfungsi sesuai fitrahnya maka ia akan ‘naik’ diatas derajat malaikat. Subhanallah… Itu semua kita tinggal memilih, mau berada diatas Malaikatkah? Atau malah berada dibawah hewan?
.
Sesungguhnya dalam diri manusia terdapat segumpal daging, dimana ketika ia baik maka baiklah semuanya. Dan (begitupula) ketika daging tersebut buruk maka buruklah semuanya. Daging tersebut bernama HATI.”

 Aditama

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan