You are currently viewing Menuju Usia 67 Tahun IPNU : Saatnya Mewujudkan Kemandirian Organisasi

Menuju Usia 67 Tahun IPNU : Saatnya Mewujudkan Kemandirian Organisasi

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) akan berusia 67 tahun pada 24 Februari 2021 nanti. Di usianya yang sudah tidak muda lagi, IPNU memiliki banyak problem yang harus diselesaikan. Salah satunya terkait kemandirian dalam organisasi.

Seperti kita ketahui, IPNU merupakan badan otonom (banom) Nahdlatul Ulama (NU) paling bawah. Segmentasi IPNU yaitu di area keterpelajaran. Berkisar antara umur 13-27 tahun. Bisa dikatakan, IPNU sekarang adalah cerminan NU masa depan. NU masa depan ada di tangan kita (IPNU). Eksistensi NU sepuluh atau dua puluh tahun lagi ditentukan juga oleh kualitas IPNU masa kini.

Untuk mewujudkan ke arah sana, perlu kiranya untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang masih dihadapi oleh IPNU. Hal ini demi meningkatkan kualitas organisasi itu sendiri.

Saya melihat, salah satu kelemahan IPNU adalah soal pendanaan. Wajar memang. Sebab, IPNU merupakan organisasi non profit. IPNU juga tidak memperoleh dana dari dana desa ataupun dana dari pengusaha kaya. Untuk menjaga eksistensi organisasi, IPNU harus bekerja secara mandiri untuk memperoleh pendanaan.

Sumber dana IPNU biasanya dibagi menjadi dua, yakni dari dalam (kas anggota) dan dari luar (sponsor, aghniya, atau lainnya). Pendapatan uang dari kas anggota saja terkadang tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan organisasi. Maka untuk mendapatkan pemasukan lebih, apalagi ketika akan mengadakan kegiatan besar, IPNU harus mencari jalan lain, yakni mencari sumber dana dari luar.

Unsur-unsur dari luar organisasi itulah yang banyak menopang IPNU dalam hal finansial. Untuk mendapatkan dana dari pihak luar pun, IPNU juga tidak bisa hanya dengan tangan kosong. Harus membawa proposal, yang tentunya cukup memakan waktu dalam pengerjaannya.

Ibarat kata, seseorang ketika ingin meraih sukses harus bekerja lebih keras dulu. Itulah IPNU, ketika ingin mendapatkan dana yang lebih banyak, harus bekerja keras terlebih dulu, seperti membuat proposal dan juga mengantarkannya ke tempat tujuan.

Memang usaha tidak akan mengkhianati hasil, namun apakah selamanya IPNU harus ‘meminta-minta’. Memang tidak ada salahnya. Namun jika dilakukan terus-terusan akan menjadi sebuah kemunduran.

Ini merupakan persoalan yang sampai saat ini belum terselesaikan. Banyak kebijakan yang telah dilakukan oleh organisasi dari level pusat hingga terbawah untuk mewujudkan kemandirian organisasi khususnya dalam meningkatkan finansial.

Dibentuknya lembaga perekonomian merupakan salah satu upayanya. Akan tetapi, faktanya di lapangan, lembaga tersebut banyak yang tidak berjalan maksimal. Kebanyakan lembaga tersebut hadir hanya sekedar formalitas kepengurusan, tanpa memiliki dampak yang signifikan dalam memenuhi pendanaan organisasi.

Memang sudah ada lembaga perekonomian yang telah berjalan sebagaimana mestinya, namun dalam kasus secara umum, bisa dikatakan belum semuanya mampu mengakomodir kebutuhan organisasi.

Kini, di usianya menginjak 67 tahun, IPNU harus lebih kreatif dan inovatif khususnya dalam meningkatkan finansial. Menyodorkan proposal ke donatur memang sah-sah saja dilakukan. Namun akan lebih baik lagi jika IPNU mampu menghasilkan uang sendiri tanpa harus ‘meminta-minta’.

Memang tidak mudah untuk mendapatkan dana secara mandiri. Namun tak ada salahnya untuk dicoba. Banyak cara bisa dilakukan IPNU untuk meningkatkan finansial organisasi, selain menyodorkan proposal ke donatur.

Sebagai contohnya adalah menjual makanan, menjual merchandise, menjual kado wisuda, dan lain sebagainya. Meskipun keuntungannya tidak seberapa, atau bahkan belum bisa mencukupi kebutuhan organisasi, namun ini lebih baik daripada harus terus menerus untuk ‘meminta-minta kepada donatur.

Kesimpulan dalam tulisan ini adalah bahwa organisasi IPNU harus berdikari (berdiri di atas kaki sendiri), dalam arti tidak bergantung kepada bantuan pihak lain.

Oleh : Khairul Anwar (Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kab. Pekalongan)

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan