You are currently viewing Mengenal Lebih Jauh ‘Tradisi Megengan’

Mengenal Lebih Jauh ‘Tradisi Megengan’

Njo megengan…

Kalimat ini sering di dengar khususnya di daerah tercinta Kabupaten Pekalongan menjelang bulan Ramadhan. Kawula muda memanfaatkan moment ini untuk sekedar berjalan-jalan atau melakukan kegiatan bersama sang kekasih (bagi yang punya alias non jomblo), keluarga ataupun teman ngumpul, dengan alasan hari esok sudah tidak bisa dengan leluasa bersua karena telah terkekang oleh niat puasa di bulan suci Ramadhan. Ada pula yang megadakan selamatan baik itu di rumah keluarga, rumah ibadah, dan pemakaman.

Sebetulnya apa sih yang dimaksud dengan megengan?

Oke, kita sedikit demi sedikit fahami tentang megengan ya…

Jika dilihat dari kebahasaan, megengan berasal dari kata basa Jawa Megeng yang artinya menahan. Secara istilahnya megengan berarti menahan diri dari sesuatu hal yang mendekatkan diri kepada perbuatan yang bisa menggugurkan ibadah puasa. Pemaknaan ini lebih seperti makna Imsak, menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa setelah melaksanakan sahur, dengan maksud sebelum terbitnya fajar, kita sudah terkesiap untuk menahan diri dari sesuatu yang membatalkan puasa.

Lantas bagaimana dengan megengan yang dilakukan dengan cara memuaskan hasrat mumpung belum masuk pada hari suci Ramadhan?

Sebelum kita menilai suatu perbuatan yang dilakukan oleh sesama kita, perlu lah dari kita kantongi pengetahuan yang terkait dengan sesuatu yang akan kita nilai. Imbauan Nabi kita Muhammad SAW dalam menyambut bulan suci Ramadhan dengan jiwa yang bahagia. Sedang skala kebahagiaan setiap orang berbeda beda, ada yang cukup diam di rumah saja sudah bahagia, ada yang ngumpul bersama keluarga besar akan merasakan kebahagiaan, ada pula yang harus merefresh pandangan mata dengan hehijauan pegunungan ataupun lelarian ombak di lautan. Artinya selama itu diniatkan untuk membahagiakan diri dalam menyambut bulan Ramadhan sah-sah saja. Namun coba tanyakan diri kita, apakah benar dalam rangka itu kita melakukan perjalanan, berwisata ataupun yang lainnya? Pastinya jawaban ada di benak kita masing-masing.

Untuk menyambut hari yang penuh keberkahan menurut umat Islam, ada masing-masing istilah yang di gunakan di beberapa wilayah, seperti Megengan Demak, Dugderan di Semarang, Dandhangan di Kudus dan Eder di Jepara. Megengan Demak biasanya diwarnai dengan banyaknya pedagang setiap jalanan kota atau biasa disebut dengan adanya Parti atau Pasar Tiban yang menjajakan aneka macam makanan.

Dugderan di Semarang sudah di seleggarakan sejak tahun 1882 di era Kolonial Belanda. Perayaan ini dilakukan di Alun-alun kota Semarang pada hari terakhir bulan Syaban. Dugderan berasal dari kata Dug dan deran, dug merupakan bunyi suara bedug yang di tabuh pada acara tersebut, sementara deran diambil dari bunyi bunyian mercon atau petasan yang dirakit dan dinyalakan setelah ditandai tabuh bedug sebagai awal mulainya acara.

Dandhangan merupakan festival di Kabupaten Kudus yang berpusat di Menara Kudus. Awalnya, dandhangan ini bermula dari tradisi santri yang berkumpul di sekitar menara kudus untuk menunggu pengumuman malam Satu Ramadhan dari Sunan Kudus. Setelah di kumandangkan bedug Masjid menara Kudus, itu pertanda bahwa malam tersebut sudah masuk malam satu bulan Ramadhan dan seluruh warga bersiap untuk melaksanakan sholat Sunnah Tarawih berjama’ah.

Di Jepara juga ada Tradisi Eder, tepatnya di desa Robayan, tradisi ini dilakukan sebagai penanda awal masuk bulan Ramadhan dan Syawal. Penandanya adalah dengan dipukulnya bedug Masjid setempat bakda Ashar sekitar pukul setengah lima sore. Di Kecamatan Kalinyamatan juga ada tradisi menyambut Ramdhan yang biasa dikenal dengan istilah Baratan, yang berisi prosesi mengirim doa kepada para leluhur atau sanak kerabat yang telah mendahului. Tradisi ini dijadikan rangkaian Nisyfu Sya’ban. Masyarakat setempat biasanya menyediakan nasi Puli, kata Puli berasal dari kata Arab afwu lii yang artinya maakan aku. Tradisi ini memang diselenggarakan dalam rangka bersih bersih, baik dzohir dan batin dengan cara memohon ampunan kepada Allah SWT dan sesama saudara muslim.

Ternyata banyak ya tradisi yang di laksanakan menjelang bulan Ramadhan dengan istilahnya masing-masing. Namun perlu pula kita fahami bahwa para sepuh atau pendahulu kita manakala membuat istilah untuk setiap tradisi, mempunyai maksud dan tujuan atau filosofi tersendiri. Sebagaimana megengan yang diambil dari kata megeng ini, mempunyai filosfis yang sangat tinggi dalam proses kehidupan manusia pada umumnya yang harus menahan sesuatu demi terwujudnya sesuatu yang lebih baik secara kualitas.

Pemaknaan megengan akan lebih relevan saat disandingkan dengan penyambutan bulan Ramadhan bila dilakukan dalam rangka membersihkan diri untuk menyambut bulan suci. Kita menahan hal-hal yang bisa menjadikan diri kita terjerumus kepada kemaksiatan yang akan membuat beban dalam pelaksanaan ibadah di bulan Ramadhan. Sebagaimana ibadah lain yang selalu di kaitkan dengan kesucian, misal saja Sholat yang harus suci dari hadats besar dan kecil, menyentuh Alquran yang mengharuskan kesucian. Maka perlu pula untuk menyambut bulan yang suci, kita menyucikan diri dari kotoran hati dan fikiran selama sebelas bulan lamanya dengan lalu lalang kemaksiatan. Sehingga megengan ini akan menemukan esensinya sebagai waktu transisi menuju fase yang lebih baik lagi.

Oleh : Emelka

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan