You are currently viewing KH M. Rofiq : Tokoh Berpengaruh Di Pekuncen Wiradesa

KH M. Rofiq : Tokoh Berpengaruh Di Pekuncen Wiradesa

KH M. Rofiq, atau sering disapa dengan panggilan Pak Rofiq merupakan salah satu tokoh penting di masyarakat desa Pekuncen, Kecamatan Wiradesa. Beliau lahir di Kendal, tepat pada tanggal 12 Januari 1958, dari pasangan suami istri yang bernama Kiai Daut dan Ibu Fathoniyah. Ayahnya yang notabene seorang kyai desa, beliau selalu mengajarkan sikap disiplin sejak masa kecilnya, yang terbukti ketika remaja beliau sudah mampu menghafal 30 juz dalan Alquran. Hingga sekarang pun sikap itu masih tertanam dalam dirinya.

Lika liku kehidupan yang dilaluinya pun tak banyak orang yg tahu. Dimulai dari masa kecilnya yang beliau habiskan dipondok hingga kehidupan seperti sekarang ini tak seindah dan semulus orang lihat.

Kehidupannya dimulai ketika ayahnya memasukkannya ke pondok milik mbah Arwani, yang kala itu masih berbentuk surau kecil untuk mengaji saja. Karena sikap disiplin yg diterapkannya itu, pada usia kurang lebih 15 tahun beliau sudah menjadi seorang hafidz al quran.

Seperti kebanyakan orang tua, ketika mendengar anaknya bisa menghafal alquran pasti ada rasa bangga dan haru dalam hatinya. Begitu juga dengan Kyai Daut, ayah dari Pak Rofiq pun bangga mendengar hal itu. Selama 7 tahun berlalu Pak Rofiq menghabiskan masa remajanya hanya di pondok saja dengan fokus pada hafalan alquran nya.

Seperti orang tua pada umumnya pasti menginginkan anaknya untuk memiliki pasangan dan hidup berkeluarga. Akhirnya, Kiai Daut memutuskan untuk menjodohkan Pak Rofiq dengan anak seorang mantri carik pada kala itu, yang notabene nya masih tergolong saudara jauh.

Hingga tepat di umurnya yang genap 25 tahun, beliau menikah dengan seorang perempuan yang bernama Hj. Sri Handayani. Dari pernikahan itulah menghasilkan dua orang anak yang sholih dan sholihah yang diberi nama Iklil Fuadi dan Ulfatul Fikriyani.

Kehidupannya tak hanya berhenti disitu saja. Setelah menikah, kisah cinta nya bersama seorang istri kini diuji. Karena ilmu yang didapat belum tergolong cukup, beliau memutuskan untuk tetap melanjutkan study nya di pondok pesantren Tebuireng Jawa Timur.

Meskipun berat meninggalkan istrinya, tetapi demi niatnya untuk mencari ilmu dengan mendalami pelajaran membaca kitab, akhirnya beliau berangkat. Selama 2 tahun beliau habiskan masa-masa selama dipondok dengan keadaan meninggalkan istrinya di rumah.

Selama penantian lamanya itu pula, akhirnya beliau memutuskan untuk kembali ke rumah dengan membawa ilmu yang telah ia pelajari, salah satu nya bisa menguasai ilmu qira’at sab’ah dan beliau menggunakan metode hafalan qur’annya dengan metode yanbu’ah, suatu metode pembelajaran membaca, menulis dan menghafal Al-Qur’an yang disusun sistematis terdiri 7 jilid, cara membacanya langsung tidak mengeja, cepat, tepat, benar dan tidak putus-putus disesuaikan dengan makhorijul huruf dan ilmu tajwid.

Dengan menguasai ilmu tersebutlah akhirnya beliau bisa mengajar di beberapa majelis ilmu, seperti salah satu pondok pesantren yang terletak di Gumawang, mengajar di TPQ Al-Ikhlas Dadirejo, pondok pesantren Djunaid, hingga bisa memiliki majelis ta’lim sendiri yang diberi nama Majelis Ta’lim Al-Fathoniyah (yang diambil dari nama ibunya) di rumahnya dan memiliki banyak santri yang mengaji di tempat beliau.

Sikap disiplin dan teliti yang beliau miliki juga sering diterapkan ketika beliau mengajar di majelis ta’limnya. Ketika anak-anak mengaji membaca alquran, beliau selalu teliti dalam hal bacaannya, baik cara membaca atau tajwidnya. Tak hanya membaca alquran saja, beliau juga membagikan ilmu baca kitabnya ke para santri nya. Seperti bagaimana cara membaca kitab kuning atau cara menulis kitab pegon. Dan untuk mencegah rasa bosan yang dirasakan santri nya, terkadang beliau selipkan sebuah cerita-cerita nabi atau sejarah lainnya, baik yang dijelaskan dalam alquran ataupun hadis. Hal tersebut membuat para santri semangat dalam mengaji.

Sikapnya yang ramah dan andap asor yang dimilikinya membuat masyarakat selalu hormat dan menghargai beliau sebagai salah seorang tokoh masyarakat penting di wilayah Pekuncen, Wiradesa.

Penulis : Shinta Amelia (IPPNU Pekuncen)

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan