You are currently viewing Kepemimpinan Perempuan
Foto (Republika.co.id)

Kepemimpinan Perempuan

Sejarah telah mencatat bahwa di beberapa negara di belahan dunia pernah melahirkan dan dipimpin oleh sosok pemimpin perempuan. Torehan gemilang telah membawa sejarah untuk biasa mengingat bahwa perempuanpun bisa memimpin dengan baik, dibuktikan dengan hasi kerja keras dan pemikirannya untuk mencapai impian dan tujuan bagi bangsa, perusahaan, atau organisasi. Meskipun begitu, ada beberapa pandangan yang menyebutkan bahwa pemimpin perempuanitu  baik ataupun tak jarang juga ada pendapat yang kurang setuju dengan adanya pemimpin dari kalangan perempuan dalam memimpin pemerintahan negara, organisasi, ataupun di posisi strategis lainnya.

            Secara sederhana pengertian kepemimpinan merupakan suatu hal yang harus dimiliki dalam dalam diri seseorang yakni mempunyai kepiawaian dan efektifitas dalam memberikan motivasi, kesemangatan, kegairahan kerja kepada bawahan atau anak buahnya. Dalam diri pemimpin akan memainkan peranan yang sangat penting dalam mengevaluasi kinerja setiap pribadi atau kelompok untuk mencapai tujuan yang telah disetujui secara bersama-sama.

            Adapun yang dimaksud pemimpin adalah seseorang yang memiliki kecakapan dan mempunyai kelebihan mampu mengendalikan atau mempengaruhi orang lain untuk bersama-sama dalam melakukan aktivitas tertentu demi memcapai satu pencapaian atau beberapa tujuan yang diinginkan. Disebutkan juga bahwa kepemimpinan sangat diyakini menjadi salah satu faktor penting dalam mempengaruhi keberhasilan proses kepemimpinan serta perilaku pemimpin dapat diartikan sebagai perilaku pemimpin yang bersangkutan atau bisa juga disebut sebuah gaya kepemimpinan.

            Berdasarkan definisi diatas, secara umum dapat kita simpulkan bahwa kepemimpinan adalah suatu kemampuan yang dimiliki seseorang dalam memimpin bawahannya dalam rangka menyukseskan visi dan misi sehingga mencapai tujuan dengan cara bekerja sama saling bahu membahu. Akan tetapi jika kepemipinan dilaksanakan dengan gaya kepemimpinan yang kurang sesuai maka akan menghancurkan organisasi atau perusahaan yang dipimpinnya. Jadi dengan demikian pemimpin harus mengetahui langkah apa yang akan diperbuat dan tentunya tetap mengedepankan budaya sopan santun dengan bawahannya.

            Di zaman sekarang, kepemimpinan mengalami banyak pergeseran mulai dari cara gaya memimpin atau arahan yang di berikan kepada bawahannya. Nampak sudah tidak relevan lagi, terlebih dengan adanya perkembangan arus teknologi dan inovasi digital yang meluas bahkan hampir setiap hari perkembangan arus informasi menyebar luas menyebabkan seorang pemimpin dituntut untuk bia memberikan hasil pekerjaan yang maksimal dan pekerjaan itu sangat bergantung pada hasil pekerjaan yang dicapai oleh bawahannya. Hasil pencapaian pekerjaan dapat dianalisis dari budaya lingkungan tempat bekerja dan proses kerja yang tepat maka akan menghasilkan pekerjaan yang maksimal dan kehadiran pemimpin akan menjadi kunci sukses dibalik kepemimpinannya.

            Menarik untuk kita simak, bagaimana pandangan sosok pemimpin perempuan menurut ulama kharismatik, kyai nyentik yakni Almarhum KH. Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, Bagi  Gus  Dur,  Islam  tidak  membedakan  peran  publik  perempuan  dan  laki-laki. Perbedaan laki-laki  dan  perempuan  hanyalah bersifat biologis,  tidak bersifat institusional atau kelembagaan sebagaimana disangkakan banyak orang dalam literatur Islam klasik. Jika ada  ayat  atau  pun  hadis  yang  diskriminatif  terhadap  perempuan,  harus  dipahami  secara cermat dalam kapasitas; apakah Muhammad sebagai salah satu orang Arab dengan segala setting  kulturalnya, atau  apakah  Muhammad  sebagai  Rasul  yang  membawa  pesan-pesan Ketuhanan.[1]

            Mengenai adanya Q.S. al-Nisa’ ayat 34 yang menjelaskan bahwa kaum laki-laki lebih tegak  atas  wanita Gus  Dur  mengatakan  bahwa  sebetulnya  ayat tersebut dapat  diartikan dalam   dua   kategori. Pertama, lelaki bertanggungjawab secara   fisik   atas   keselamatan  wanita. Kedua,lelaki  lebih  pantas  menjadi  pemimpin  negara.  Selain  itu  Gus  Dur  juga menambahkan bahwa, ternyata para pemimpin politik Islam lebih memilih pendapat yang kedua, terbukti dari ucapan mereka di muka umum.[2] Allah SWT berfirman:

اَلرِّجَالُ قَوَّامُوْنَ عَلَى النِّسَاۤءِ بِمَا فَضَّلَ اللّٰهُ بَعْضَهُمْ عَلٰى بَعْضٍ وَّبِمَآ اَنْفَقُوْا مِنْ اَمْوَالِهِمْ ۗ فَالصّٰلِحٰتُ قٰنِتٰتٌ حٰفِظٰتٌ لِّلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللّٰهُ ۗوَالّٰتِيْ تَخَافُوْنَ نُشُوْزَهُنَّ فَعِظُوْهُنَّ وَاهْجُرُوْهُنَّ فِى الْمَضَاجِعِ وَاضْرِبُوْهُنَّ ۚ فَاِنْ اَطَعْنَكُمْ فَلَا تَبْغُوْا عَلَيْهِنَّ سَبِيْلًا ۗاِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلِيًّا كَبِيْرًا – ٣٤

            Artinya: ‘Laki-laki (suami) itu pelindung bagi perempuan (istri), karena Allah telah            melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan         karena mereka (laki-laki) telah memberikan nafkah dari hartanya. Maka perempuan-           perempuan yang saleh adalah mereka yang taat (kepada Allah) dan menjaga diri ketika          (suaminya) tidak ada, karena Allah telah menjaga (mereka). Perempuan-perempuan          yang kamu khawatirkan akan nusyuz, hendaklah kamu beri nasihat kepada mereka,           tinggalkanlah mereka di tempat tidur (pisah ranjang), dan (kalau perlu) pukullah    mereka. Tetapi jika mereka menaatimu, maka janganlah kamu mencari-cari alasan untuk menyusahkannya. Sungguh, Allah Mahatinggi, Mahabesar.’’ (QS. An-Nisa: 34)

            Al-Qur’an telah menyebutkan bahwa kedudukan perempuan setara dengan laki-laki dalam surat At-Taubah ayat 71:

وَالْمُؤْمِنُوْنَ وَالْمُؤْمِنٰتُ بَعْضُهُمْ اَوْلِيَاۤءُ بَعْضٍۘ يَأْمُرُوْنَ بِالْمَعْرُوْفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَيُؤْتُوْنَ الزَّكٰوةَ وَيُطِيْعُوْنَ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ ۗاُولٰۤىِٕكَ سَيَرْحَمُهُمُ اللّٰهُ ۗاِنَّ اللّٰهَ عَزِيْزٌ حَكِيْمٌ – ٧١

                Artinya:‘’Dan orang-orang yang beriman, laki-laki dan perempuan, sebagian mereka menjadi penolong   bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar, melaksanakan salat, menunaikan zakat, dan taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka akan diberi      rahmat oleh Allah. Sungguh, Allah Maha perkasa, Mahabijaksana.’’ (QS. At-Taubah 9:71)

            Dalam keterangan tafsir ringkas kemenag RI, Ayat ini menerangkan bahwa orang mukmin, pria maupun wanita saling menjadi pembela di antara mereka. Selaku mukmin ia membela mukmin lainnya karena hubungan agama. Wanita pun selaku mukminah turut membela saudara-saudaranya dari kalangan laki-laki mukmin karena hubungan seagama sesuai dengan fitrah kewanitaannya.

            Perempuan sebagai pemimpin memiliki hak yang sama dengan laki-laki. Karena pada dasarnya perempuan bukan hanya dipandang  sebagai sosok yang lemah lembut akan tetapi memiliki pondasi penting dalam kehidupan keluarga, organisasi, maupun dilingkungan bermasyarakat. Sejalan dengan reformasi dan konsep gender yang menempatkan perempuan diposisi yang sama di semua bidang kehidupan tak terkecuali dijadikannya sebagai pemimpin.

Persoalan gender sudah menunjukan bahwa tidak banyak perbedaan gender dalam hal organisasi ataupun perusahaan. Namun jika gender dikaitkan dengan gaya kepemimpinan maka terlihat adanya gaya tertentu yang bersifat khas dari perempuan. Karakteristik pekerjaan berkaitan dengan gaya kepemimpinan perempuan terbagi menjadi dua, yaitu gaya kepemimpinan feminism dan gaya kepemimpinan transformasional.

            Yang dimaksud gaya kepemimpinan transformasional adalah konsep yang sangat relevan pada situasi dimana akan terjadinya perubahan yang sangat cepat dan menuntut organisasi untuk dapat menyesuaikan diri, gaya yang demikian disebut gaya kepemimpinan transformasional. Pada praktiknya gaya kepemimpinan transformasional memiliki pengaruh yang sangat positif terhadap beberapa pengambilan keputusan dan sangat berpengaruh terhadap gaya pengambilan keputusan avioden dan ketergantungan. Hasilnya bisa di amati, bahwa gaya kepemimpinan tidak berpengaruh terhadap pengambilan keputusan secara sponta. (Fatkhurrahman, 2018,b). Lain halnya dengan gaya kepemimpinan feminism dapat dicirikan sebagai berikut : Tidak agresif emosional sangat subjektif pasif, tidak kompetitif, mudah  tersinggung, dan sulit untuk mengambil keputusan. (Dilansir Dari Fitriani, Jurnal TAPIs,  ‘’Gaya Kepemimpinan Perempuan’’, 2015)

            Memposisikan perempuan sebagai sosok yang bukan hanya sebagai proses pembangunan saja, akan tetapi sebagai fondasi yang mendukung pembangunan hal itu merupakan sebuah keniscayaan karena langkah ini sejala dengan gerakan emansipasi wanita yang telah ditorehkan oleh Raden Ajeng Kartini. Dalam hal ini RA. Kartini mengungkapkan bahwa adanya gerakan emansipasi wanita dan gender memiliki persamaan hak-hak perempuan disegala bidang kehidupan sehingga menggeser stigma tentang sosok perempuan yang dipandang lemah, namun memiliki kemampuan yang sama untuk berada diposisi puncak menduduki jabatan dalam kariernya.

            Selain itu ada banyak tokoh perempuan dunia yang mampu menduduki sebagai kepala pemerintahan di negaranya antara lain: Perdana Menteri Margaret Thatcher dari Inggris, Perdana Menteri Indira Gandhi dari India, Benazir Bhuto, Perdana Menteri Pakistan, Maria Corazon Sumulong Cojuangco (Cory Aquino) Aquino, Presiden dari Filipina yang memposisikan dirinya sebagai wanita cerdas dan mempunyai kekuatan sehingga dapat berperan dengan baik di pemerintahan.

            Semoga kita sebagai manusia yang sedang mengemban amanah dalam kepemimpinan ataupun kekuasaan. Diharapkan mampu menjalankan kepemimpinannya dengan baik dan adil terhadap bawahan yang dipimpinnya. Tujuannya untuk menjadikan suasana yang harmonis dan heterogen.

“Kepemimpinan sulit untuk didefinisikan dan kepemimpinan yang baik bahkan lebih sulit. Tapi, jika kamu bisa membuat orang mengikutimu sampai ke ujung dunia, kamu adalah pemimpin yang hebat.” – Indra Nooyi

A’isy Hanif Firdaus, S.Ag. Sekretaris Umum Pengurus Pusat  IKAF  (Ikatan Keluarga Al-Fajar) Babakan Lebaksiu Tegal, Penulis di NU Online Jawa Tengah, Santri penggemar secangkir kopi hitam.


                [1] Nuruzzaman,  Jalal,  dkk., Pengantar Editor dalam  buku  Islam Agama  Ramah  Perempuan: Pembelaan  Kiai Pesantren (Yogyakarta: Lkis, 2004), hlm. 34

                [2] Abbas  Mahmud  al-Aqqad,  Filsafat Al-Quran:  Filsafat,  Spiritual  dan  Sosial  dalam  Isyarat  Al-Quran (Jakarta: Pustaka Firdaus, 1986), hlm.  73-74.

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan