You are currently viewing Kegiatan Kaderisasi: Penguatan Ideologi Atau Hanya Sekadar Resepsi?

Kegiatan Kaderisasi: Penguatan Ideologi Atau Hanya Sekadar Resepsi?

Istilah ‘kaderisasi’ sudah tidak asing lagi terdengar di telinga kita. Kira-kira apa yang pertama kali muncul di benak kalian jika mendengar istilah tersebut?

Orang-orang? Organisasi? Pergantian ketua? Atau merekrut anggota baru?

Ok, simpan dulu jawabannya. Istilah ‘kaderisasi’ memang bukan hal yang baru di kalangan para aktivis. Bahkan, keseharian seorang aktivis juga sebenarnya tak luput dari kaderisasi.

Lalu apa itu sebenarnya kaderisasi?

Menurut KBBI, kaderisasi yang diawali dari kata kader, mempunyai makna orang yang diharapkan dapat memegang peranan penting di dalam sebuah organisasi.

Sedangkan istilah ‘kader’ itu sendiri adalah orang yang telah dilatih dan dipersiapkan dengan berbagai keterampilan dan disiplin ilmu, sehingga dia memiliki kemampuan yang di atas rata-rata orang umum. Dalam proses kaderisasi ada dua hal penting, yaitu pelaku kaderisasi (subjek) dan sasaran kaderisasi (objek).

Kaderisasi diibaratkan sebagai jantungnya organisasi. Kaderisasi-lah yang menciptakan embrio-embrio baru yang nantinya akan memegang tongkat estafet perjuangan organisasi.

Ringkasnya begini, orang-orang di dalam sebuah organisasi pasti tak selamanya bisa diandalkan terus-menerus. Harus ada generasi yang melanjutkan untuk kedepannya. Inilah yang disebut sebagai kaderisasi. Karena setiap pemimpin ada masanya, dan setiap masa ada pemimpinnya. Begitulah kiranya.

Setiap organisasi, baik itu organisasi politik, organisasi kemasyarakatan, organisasi kepemudaan, atau organisasi intra maupun ekstra kampus pasti membutuhkan sosok pemimpin dan orang yang dipimpinnya.

Berbeda organisasi, berbeda pula konsep, visi, misi, dan karakteristik tertentu yang terdapat di dalamnya. Perbedaan-perbedaan inilah yang juga membuat konsep dan metode pengkaderan tiap organisasi tidak sama.

Salah satu organisasi yang rutin melakukan kaderisasi adalah IPNU-IPPNU. Organisasi sayap NU ini hampir setiap tahun, bahkan setiap bulannya menyelenggarakan kegiatan kaderisasi. Pasalnya, IPNU-IPPNU ini banyak tingkatannya, mulai dari ranting hingga ke pusat.

Di IPNU – IPPNU, kaderisasi dibagi menjadi tiga macam: formal, nonformal, dan informal. Jenjang kaderisasi formal dimulai dari Masa Kesetiaan Anggota (Makesta), Latihan Kader Muda (Lakmud) dan Latihan Kader Utama (Lakut).

Sementara kaderisasi non formal meliputi berbagai macam pelatihan seperti Training Of Administration (TOA), Sekolah Jurnalistik, Latihan Instruktur, dan lain sebagainya.

Berbeda halnya dengan kaderisasi informal, kaderisasi tipe ini lebih kepada keseharian kita dalam mengurus organisasi. Dan tujuan dari masing-masing jenis kaderisasi itu juga berbeda-beda.

Setiap tingkatan di IPNU-IPPNU mempunyai proporsi yang berbeda-beda dalam melangsungkan kegiatan kaderisasi. Misal, kegiatan makesta yang umumnya diselenggarakan oleh Pimpinan Ranting (PR), Lakmud yang dilakukan oleh Pimpinan Anak Cabang (PAC), dan Lakut yang dilaksanakan oleh Pimpinan Cabang (PC).

Kegiatan kaderisasi di IPNU-IPPNU bisa dikatakan luar biasa. Karena setiap tingkatan biasanya rutin menyelenggarakan kegiatan kaderisasi minimal sekali dalam setiap periodenya. Hal ini yang kemudian memunculkan bibit-bibit anyar dalam sebuah organisasi. Dari tingkatan paling bawah sampai ke tingkatan di atasnya lagi menyelenggarakan kegiatan kaderisasi lewat caranya masing-masing.

Namun kemudian timbul pertanyaan, sudah tepatkah kegiatan kaderisasi yang selama ini dilakukan? Sudah sesuai prosedur kah kegiatan kaderisasi yang rutin diselenggarakan?

Atau jangan-jangan kegiatan kaderisasi yang kita lakukan hanya sekadar formalitas? Atau hanya untuk menggugurkan kewajiban program kerja? Atau mungkin kegiatan kaderisasi yang kita lakukan hanya sebatas patuh terhadap instruksi dari tingkatan di atasnya? Semoga saja tidak.

Kegiatan kaderisasi itu bernilai tinggi. Di dalam kegiatan kaderisasi, ada sebuah harapan. Di dalam kegiatan kaderisasi ada sebuah impian. Dan di dalam kegiatan kaderisasi, ada pula masa depan. Ya. Harapan, impian dan masa depan organisasi itu sendiri. Suatu organisasi bisa dikatakan berhasil bila mampu menerapkan sistem kaderisasi yang baik, tepat dan berkelanjutan.

Pada sebuah kegiatan kaderisasi, kebiasaan yang sering dilakukan adalah mengundang tamu-tamu kehormatan di acara pembukaan. Lalu mereka diberi hidangan makanan atau minuman enak-enak, yang tentunya membutuhkan biaya yang tidak sedikit untuk membelinya.

Kadang kala, desain ruangan juga dibuat semegah mungkin. Tamu undangan yang hadir diajak foto bersama dan beri asupan tambahan selepas acara pembukaan. Bak seperti sebuah resepsi di acara pernikahan. Yang mana para hadirin memakai pakaian-pakaian yang (mungkin) harganya cukup mahal, dan desain ruangan ada yang menyewa jasa Wedding Organizer.

Namun, apakah kegiatan kaderisasi hanya cukup sampai disitu? Apakah kita mencari banyak dana mencapai jutaan hanya sebatas untuk menghias ruangan dan menyuguhkan hidangan mewah kepada para tamu undangan? Tidak semudah itu rasanya.

Ok. Hal demikian sah-sah saja dilakukan. Mengingat zaman semakin modern. Dan tuntutan untuk berinovasi dan berkreasi semakin tinggi. Salah satu poin penting mengundang tamu kehormatan adalah untuk memberikan pesan dan motivasi berharga kepada peserta. Ini menjadi modal awal peserta sebelum memulai perjuangannya dalam mengikuti kegiatan.

Peserta yang mungkin sebelumnya hanya melihat orang-orang hebat itu di media sosial atau di televisi, kini bisa melihatnya secara langsung. Hal demikian bisa melecut semangat mereka. Poin plusnya disini.

Namun, kita tidak hanya berfokus pada itu saja. Ada hal yang jauh lebih penting dari sekadar membikin meriah acara pembukaan, yakni bagaimana kita membuat para peserta bisa menjadi manusia berharga di kemudian hari. Dan yang lebih penting lagi adalah penguatan ideologi.

Tujuan utama kegiatan kaderisasi adalah menciptakan orang-orang baru yang di kemudian hari akan menggantikan kita menghidup-hidupi organisasi, wabil khusus organisasi IPNU-IPPNU. Tapi, orang-orang baru itu bukanlah yang kaleng-kaleng, mereka sudah harus terlatih.

Kegiatan kaderisasi baik itu formal maupun nonformal berusaha menciptakan kader yang bukan hanya hebat dalam mengerjakan suatu program, tapi lebih dari itu.

Kaderisasi haruslah mampu menciptakan kader yang memiliki jiwa pemimpin, memiliki emosi yang terkontrol, kreatif dan mampu menjadi pemberi solusi untuk setiap permasalahan. Di samping itu, menciptakan kader bermental tangguh dan yang terpenting dapat menjadi seorang teladan bagi anggotanya.

Seenggaknya, jerih payah kita dalam mempersiapkan kegiatan, mulai dari membuat proposal, mencari peserta, sampai ke teknis waktu pelaksanaan ada hasilnya. Jangan sampai kegiatan selama berhari-hari tidak membuahkan hasil apa-apa. Kita (orang-orang lama) yang akan rugi nantinya. Bagaimana tidak rugi? Sudah capek-capek mengurus acara, meluangkan waktu, menghabiskan tenaga dan keluar biaya, tapi tidak ada hasil yang kita harapkan. Ibarat kata, buah yang kita tanam itu panennya lama, atau bisa jadi gagal panen.

Jangan jadikan kegiatan kaderisasi sebagai ajang adu gengsi. Tapi jadikanlah momentum kegiatan kaderisasi sebagai ajang penguatan ideologi, pembentukan karakter, peningkatan kualitas dalam diri serta hal-hal baik lainnya.

Penguatan ideologi yakni peserta setelah mengikuti sebuah kegiatan, misal Makesta dan Lakmud, harus meyakini bahwa Ahlussunnah Wal Jamaah adalah faham yang harus dianut, meyakini bahwa pancasila adalah ideologi bangsa.

Peserta di kemudian hari menjadi manusia berguna. Tidak mudah menyalah-nyalahkan orang lain, tidak mudah membid’ahkan tradisi orang lain, punya rasa toleransi yang tinggi terhadap segala perbedaan, punya kecintaan yang besar terhadap NKRI, dan sifat positif lainnya.

Hal-hal tersebut yang harus ditanamkan dalam diri setiap peserta. Ringkasnya, peserta, setelah mengikuti kegiatan, tidak hanya mengetahui apa itu Aswaja, apa itu NU, apa itu IPNU-IPPNU, dan sebagainya, namun harus menerapkan ilmu-ilmu yang didapatkan di kehidupan sehari-sehari.

Memang tidak mudah, namun kita perlu ikhtiar. Alumni-alumni kegiatan kaderisasi jangan dilepas begitu saja. Susun program yang bertujuan menambah skill mereka, memperbaiki pola pikir mereka, dan yang terpenting adalah menjadikan mereka manusia yang memanusiakan manusia.

Alumni-alumni kegiatan kaderisasi inilah yang di masa mendatang akan menggantikan para pendahulunya. Alumni TOA, yang di kemudian hari menjadi sekretaris, meskipun tidak semuanya. Alumni Makesta atau Lakmud, yang di kemudian hari menjadi manusia bermanfaat lainnya. Dan alumni-alumni lainnya yang juga butuh bimbingan, masukan dan arahan dari seniornya.

Kesimpulannya, kegiatan kaderisasi tidak hanya menjadi ajang adu gengsi, menggugurkan kewajiban program kerja, mematuhi instruksi tingkatan atas, hanya sebatas formalitas atau sekadar resepsi, tapi kegiatan kaderisasi bertujuan sebagai ajang penguatan ideologi, peningkatan kualitas manusia, dan demi mempertahankan eksistensi organisasi di masa depan. Sekian dan mohon maaf bila ada kesalahan.

Penulis : Khairul Anwar (Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kab. Pekalongan)

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan