You are currently viewing IPPNU Pangkah Karangdadap Gelar Seminar Keperempuanan
Foto by Ikromi

IPPNU Pangkah Karangdadap Gelar Seminar Keperempuanan

Karangdadap – Pimpinan Ranting (PR) Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) Desa Pangkah, Kecamatan Karangdadap mengadakan seminar dengan tema ‘Bekal wanita muslimah disaat haid, nifas dan istikhadloh’  bertempat di TK Muslimat NU Pangkah, Ahad (10/10) dengan pemateri Ustadzah Mufidatul Laila (Pengasuh Ponpes Sirojjul Tholibin Kradenan Pekalongan Selatan).

Materi yang disampaikan oleh pemateri mengenai pengertian, macam-macam nya, perbedaan, perhitungan harinya serta bagaimana cara membersihkan atau menyucikan baik haid, nifas, dan istikhadloh. Acara ini diikuti oleh 50 peserta baik dari ranting Pangkah ataupun ranting luar.

Dalam sambutannya, pihak TK Muslimat NU Desa Pangkah, Nur Khikmah menyampaikan bahwa kegiatan seperti ini sangat bermanfaat karena dapat memberikan wawasan penting kepada pelajar NU putri.

“Acara seperti ini adalah acara yang bagus untuk anak-anak muda pelajar bisa tahu apa itu haid, nifas maupun istikhadloh karena sebagai bekal dalam menjalani kehidupan ini,”ujarnya.

Ketua pelaksana rekanita Asih Kholisah mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang sudah mendukung jalannya kegiatan ini sehingga bisa terlaksana dengan lancar dan sukses. “Serta kami juga meminta maaf apabila ada kesalahan karena acara tersebut masih awal dan masih belum ada pandangan yang lebih baik lagi,”ucapnya.

Ustadzah Mufidatul Laila menjelaskan bahwa darah haid merupakan darah yang dikeluarkan oleh wanita setiap bulannya. Darah haid merupakan kodrat wanita yang telah mengalami pubertas atau baligh. Siklus menstruasi secara alami terjadi pada wanita sehat. Darah tersebut keluar dari area kewanitaan bukan karena penyakit atau pun kehamilan.

“Sedangkan darah nifas merupakan darah yang dikeluarkan seorang wanita setelah persalinan. Nifas bisa diartikan sebagai darah yang keluar dari rahim wanita setelah selesai melahirkan, walaupun anak yang dilahirkan belum berwujud manusia atau masih berupa ‘alaqah (darah kental) atau mudghah (segumpal daging),”paparnya.

Disampaikan, masa maksimal nifas adalah empat puluh sampai enam puluh hari. Sama dengan darah haid, seorang muslimah yang sedang mengeluarkan nifas haram hukumnya untuk melaksanakan ibadah wajib.

“Nah kalau darah istikhadloh merupakan darah yang keluar dari bagian kewanitaan karena suatu penyakit. Istikhadloh keluar di luar masa nifas maupun masa haid. Berbeda dengan darah haid dan darah nifas, wanita muslim yang mengeluarkan istikhadloh wajib untuk melaksanakan ibadah. Terdapat beberapa aturan bagi wanita yang sedang istikhadloh, yakni wajib mandi saat darahnya berhenti, sebelum sholat melaksanakan wudhu, dan sebelum wudhu harus membasuh sebagian tubuh yang terkena darah,”jelasnya.

Salah satu peserta seminar, Ifaul Karomah mengatakan bahwa acara ini bagus karena memberikan ruang belajar. “Semoga ilmu yang kita dapatkan hari ini bisa bermanfaat bagi kita semua khususnya pelajar IPPNU,”ujarnya.

Kontributor: Muhammad Ikromi

Editor: Khairul Anwar

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan