You are currently viewing IPNU IPPNU Sebagai Wadah Tradisi Kajian Kitab Kuning
Foto : Khaskempek.com

IPNU IPPNU Sebagai Wadah Tradisi Kajian Kitab Kuning

Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Dan Ikatan Pelajar Putrri Nahdlatul Ulama, merupakan salah satu bagian dari badan otonom Nahdlatul Ulama. IPNU-IPPNU merupakan wadah bagi remaja NU untuk lebih mengenal ciri khas dan khasanah Nahdlatul Ulama, dimana dalam organisasi berbasis agama ini, IPNU dan IPPNU selalu ikut andil dalam kemajuan bagi kader-kadernya. Tidak hanya kemajuan IPTEK tetapi juga pelestarian ajaran ulama-ulama salafushalih. Diantara kajian-kajian yang sering didakan oleh remaja-remaja IPNU dan IPPNU adalah kajian Kitab Kuning klasik.

Sebagai tradisi pesantren, kitab kuning bisa mewarnai corak kehidupan keagamaan pada masyarakat. Melalui tradisi membaca kitab kuning inilah dapat menjadi paham ahlusunnah waljama’ah yang sangat kuat, sehingga mampu menjadi tiang peyangga untuk para generasi-generasi muda. Dimana pada ajaran Ahlusunnah Waljama’ah pada paham Teologi berkiblat pada paham Imam Asy’ariyah, dalam bidang Fiqh berpaham pada Imam As-Syafi’i, kemudian pada bidang Tasawuf berpaham pada Imam Al-Ghozali dan Imam Al-Junaidi.

Nama kitab kuning tidak lain hanya jenis kertasnya saja yang kebetuan berwarna kuning, lantaran pada zaman dahulu belum ada jenis kertas putih seperti zaman sekarang. Pada zaman modern ini kitab kuning dicetak mengunakan kertas putih dan dijilid dengan rapi, sehingga penampilan kitab kuning sekarang terlihat lebih menarik. Perubahan pada kertas dan cover kitab kuning tidak merubah isi ajaran pada kitab tersebut.isi kitab tersebut masih sama dengan tulisan para ulama-ulama yang mengarangnya.

Menurut artikel yang saya lansir di NU Online, Kitab kuning dapat didefiniskan mejadi 3 pengertian,  yang pertama yaitu kitab kuning yang ditulis oleh ulama-ulama asing, walaupun sampai sekarang kitab-kitab tersebut masih dibuat referensi yang dipedomani oleh ulama-ulama indonesia. Seperti kitab tafsir yaitu tafsir jalalain, kitab gramatika bahasa arab yaitu Alfiyah Ibnu Malik, kitab hadist seperti Arba’in Nawawi. Jenis kitab kuning yang kedua adalah kitab yang dituis oleh ulama indonesia, sebagai karyanya seperti kitab Hujjah Ahlusunnah Wal’jama’ah karangan KH. Ali Makshum Al-Jogjawi yang sering digunakan sebagai bahan kajian rutin remaja IPNU IPPNU untuk memperkuat akidah ahlusunnah waljama’ah. Jenis yang ke-tiga yaitu kitab yang ditulis oleh ulama indonesia sebagai komentar atau terjemahan pada kitab klasik.

Kajian kitab kuning klasik menjadi salah satu kajian rutin yang  harus ada dalem agenda harian pada program kerja baik ditingkat ranting maupun tingkat pusat. Selain menjadi salah satu agenda pelestarian budaya, kajian kitab kuning juga merupakan ladang pengatahuan agama yang masih jarang didapatkan disekolah formal. Kitab-kitab kuning yang berisi mengenai ajaran-ajaran agama baik dalam segi tauhid, taharah, ubudiyah, muamalah, munakahat, serta jinayat menjadi pelajaran yang dapat menjadi penganggan serta penguat hukum-hukum islam yang harus diajarkan oleh generasi muda. Pelajaran-pelajaran dalam kitab kuning juga bisa menjadi tameng untuk mencegah radikalisme yang sampai sekarang masih marak diberitakan.

Kiai-kiai kampung adalah warisan kekayaan dalam khasanah pengajaran kitab-kitab kuning klasik. Memang, Kitab kuning klasik tidak bisa dibaca atau dipelajari oleh orang awam. Bahasa yang digunakan dalam kitab kuning klasik adalah bahasa arab gundul atau tanpa harakat, yang mana untuk bisa membacanya kita harus belajar dulu mengenal gramatika arab atau  kaidah ilmu nahwu dan shorof. Belajar ilmu nahwu dan shorof tidak cukup hanya sehari dua hari, kiai-kiai kampung yang sudah mahir dalam membaca kitab kuning adalah mereka para santri yang dulunya sudah mempelajari kaidah ilmu nahwu dan shorof selama bertahun-tahun.

Remaja IPNU IPPNU tidak semuanya pernah mondok atau nyatri, jadi masih banyak sekali generasi-generasi NU kita masih buta akan kitab gudul, bahkan memaknai saja belum bisa mengunakan jawa pegon. Kurangnya minat mempelajari nahwu sorof, kini kajian-kajian kitab kuning yang dahulu masih diminati, bahkan diwajibkan untuk mengajinya setiap ba’da maghrib telah bergeser akibat dari kemajuan zaman serta pembelajaran kitab kuning di kampung-kampung yang masih mengunakan metode pembelajaran lama yang terkesan membosankan.  

Seiring perkembangan zaman juga para kiai-kiai modern terus berinovasi mengembangkan jalan dakwah melaui media sosial. Seperti live streaming  baik di IG atau di youtube. Tapi bisa dilihat banyakkah peminat kajian kitab kuning secara online tersebut dari pada peminat live streaming game online atau KPOPRS ? mengenaskan bukan nasib literarur kajian kitab kuning pada masa ini.

Kajian rutin kitab kuning setiap satu minggu dua kali di PR IPNU-IPPNU desa Pacar menjadi bentuk upaya para pengurus NU untuk tetap ikut melestarikan tradisi serta menjadi wadah pengatahuan keagamaan untuk generasi-generasi modern, agar mereka tetap bisa mengambil hirroh serta dapat menjadi pondasi dalam beragama dan bermasyarakat. Kajian kitab kuning juga diharapkan menjadi pegangan para generasi muda dalam berpaham ahlusunnah waljama’ah.

Penulis: Risma Ayuning Asti (Kader IPPNU Tirto)

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan