You are currently viewing Ikhtiar Santri Menjawab Tantangan Globalisasi

Ikhtiar Santri Menjawab Tantangan Globalisasi

Berbicara mengenai santri pasti berbicara pula mengenai pondok pesantren. Dimana pondok pesantren merupakan tempat tinggal sekaligus tempat belajarnya para santri. Sebelum mengkaji mengenai ikhtiyar santri dalam menjawab tantangan globalisasi, penulis ingin mengkaji mengenai perbedaan sistem pendidikan nasional dan sisem pendidikan pesantren.

Ditinjau dari kata pesantren, berasal dari kata santri dengan awalan pe dan akhiran an, yang artinya tempat tinggal santri. Harus diakui bahwa dewasa ini sistem pendidikan kita sedang mengalami krisis moralitas, kemerosotan bahkan bisa dikatakan mengecewakan. Salah satu indikatornya adalah semakin rendahnya pelaksanaan kehidupan beragama dalam masyarakat kita. Pendidikan nasional kita memang menghasilkan manusia super di bidang IPTEK, namun rendah dalam nilai moralitas.

Korupsi, kejahatan seksual, kekerasan, penggunaan narkoba dan penyimpangan moral yang lain justru banyak dilakukan oleh mereka yang notabene nya berpangkat sebagi elite masyarakat educated.

Pendidikan harus secara sadar mendidik para anak didik untuk menjadi manusia yang memiliki tata nilai yang mantap dan demokratis (Buchori, 2001: 84). Pendidikan harus mampu membentuk hati dan perasaan anak didik, karena masalah nilai, jati diri, dan sikap egaliter berkaitan dengan hati, bukan karena pengetahuan semata.

Pada hakikatnya pendidikan merupakan alat transformasi yang efektif untuk menuju perubahan – perubahan tertentu. Pendidikan hadir untuk membentuk manusia agar berhati lembut, mengasihi antarsesama, dan bersikap manusiawi.

Globalisasi adalah proses integrasi nasional yang terjadi karena pertukaran pandangan dunia, produk pemikiran, dan aspek kebudayaan lainnya. Kemajuan infrastruktur transportasi, telekomunikasi termasuk internet termasuk faktor utama dari globalisasi, yang mampu menghasilkan sifat saling ketergantungan bahkan kecanduan.

Modernisasi dan globalisasi yang sudah terjadi di segala sendi kehidupan merupakan konstribusi pemikiran yang diberikan oleh dunia pendidikan.

Perkembangan peradaban manusia harus diimbangi dengan upaya peningkatan kuantitas dan kualitas pendidikan. Namun, harapan tersebut nampaknya perlahan hilang, seiring dengan perkembangan peradaban manusia yang hidup dalam tradisi kapitalis. Pendidikan yang ada sekarang hanyalah sebuah proses pembelajaran yang memaksa anak didik untuk menaiki jenjang pendidikan yang tak berujung.

Globalisasi dan modernisasi sebagai konstribusi pemikiran yang ditawarkan oleh dunia pendidikan juga membawa dampak yang tidak kecil. Globalisasi melahirkan kebudayaan global yang bersifat mendunia pada level internasional. Pada dasarnya globalisasi merujuk pada perkembangaan yang sangat cepat dalam bidang teknologi, komunikasi, trasportasi, dan informasi seperti internet, kini seolah menjadikan dunia ada dalam genggaman. (Ahmed dan Donnan, 1994:1).

Diera modern seperti ini, seharusnya pembinaan nilai moral keagamaan hendaknya menjadi bagian integral dari sistem pendidikan nasional yang secara keseluruhan diajarkan di berbagai jenjang pendidikan.

Agama, hendaknya masuk dalam pembinaan kepribadian seseorang sebagai penuntun dan pengendali moral para anak didik. Namun mirisnya, kini agama hanya menjadi sebatas pengetahuan (science) saja, tanpa dipraktiakan dengan tingkah laku yang agamis.

Salah satu indikator kegagalan pendidikan nilai moral keagamaan dapat kita lihat dari perilaku generasi muda “terpelajar” masa kini yang cenderung apatis, arogan dan immoral.

Pada pertengahan dekade 90-an lahir generasi baru yang disebut dengan generasi mall. Mereka berfantasi mengenai kehidupan serba enak dan nyaman. Generasi mall kemudian dengan lahirnya generasi handphone, yaitu kecederungan remaja untuk bercanda ria melalui handphone.

Lahirnya dua generasi ini menghasilkan pola hidup yang konsumerisme dan memunculkan gaya hidup baru yang disebut budaya mall. Suatu budaya yang mengadopsi wacana dunia barat: pakaian serba ketat, serba instan, mahal, trendi dan lain sebagainya. Semua itu merupakan sebagian contoh dari tantangan globalisasi.

Dewasa ini sistem pendidikan di Indonesia hanya sebatas “transformasi ilmu”, yaitu sebuah transformasi yang hanya melibatkan peran keilmuan dengan tidak menekankan transformasi perilaku, moralitas, dan etika.

Berbeda halnya dengan pendidikan pesantren, yang lebih memerhatikan pada aspek etika dan moral dalam bentuk praktik yang nyata. Peningkatan kesejahteraan yang bersifat material perlu diimbangi dengan kestabilan moral dan spiritual.

Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tidak akan berarti tanpa didasari moralitas dan spiritualitas religius yang kuat. Teknologi modern sebagai instrumen untuk mencapai kesejahteraan dapat dipelajari dan diimport, tetapi kejujuran, keikhlasan, dan kesabaran tidak dapat diimport dari manapun, melainkan dari diri sendiri dan pendidikan agama.

Pendidikan Agama, khususnya Islam harus mampu berhadapan dengan ombak globalisasi yang menyerang seluruh sendi kehidupan. Maka dari itu pendidikan pesantren  melalui para santrinya harus mampu menjadi penggerak dan pengendali dalam tatanan kehidupan.

Para santri harus mampu menjawab tantangan globalisasi, dengan tetap mengacu pada nilai dan norma agama. Mereka juga harus mampu memilah apakah ide modernisasi itu senafas dengan nilai keislaman, sehingga dapat diadopsi dan dikembangkan nantinya.

Melaui pembelajaran yang berlangsung siang dan malam, memberikan kesempatan yang sangat luas dalam hubungan antara pendidikan dan pengajaran. Dengan demikian para santri dapat menentukan keputusan sendiri dan melaksanakan keputusannya. Solidaritas antar santri juga akan tumbuh dengan baik, mereka akan mengerti mengenai sikap menghormati dan menghargai.

Di dalam pendidikan pesantren, para santri juga akan mengerti mengenai nilai – nilai berkehidupan dan beragama:

  1. Nilai keikhlasan, berupa memandang kehidupan secara keseluruhan sebagai bentuk ibadah, yang tidak didorong oleh ambisi apapun untuk memperoleh keuntungan tertentu.
  2. Nilai kesederhanaan yang mengandung makna kekuatan dan ketabahan hati.
  3. Nilai ukhuwah islamiyah yang demokratis.
  4. Nilai kemandirian.
  5. Nilai kebersamaan.

Dengan memegang teguh kelima nilai tersebut para santri diharapkan dapat beradaptasi dan menyikapi perubahan – perubahan tatanan kehidupan yang muncul akibat dari globalisasi.

Berikut adalah beberapa tantangan yang muncul di era globalisasi:

  1. Sikap Individualisme

Anak muda saat ini, tak jarang lebih mementingkan kepentingan pribadi dari pada kepentingan bersama, dampaknya sikap individualisme seperti ini dapat memudarkan rasa solidaritas sosial di lingkungannya.

Terkait menyikapi problematika seperti di atas, santri dituntut untuk menjalin ikatan silaturahim dengan membentuk ikatan remaja masjid, mengikuti organisasi masyarakat seperti IPNU – IPPNU. Harapannya dari kedua kegiatan tersebut dapat terjalin sosialisasi antar anggota sehingga dapat meminimalisir munculnya sikap individualisme di kalangan remaja, terutama dari kalangan santri.

Selain itu upaya yang dilakukan juga dapat berupa mengikuti kegiatan – kegiatan yang menitik beratkan pada kajian keislaman. Berdasarkan hadis “khoirunnas an fa’uhum linnassebaik – baik  manusia adalah yang bermanfaat bagi manusia lain.

  • Kemajuan IPTEK

Kemajuan IPTEK seperti munculnya internet terkadang membuat “candu” bagi para penggunanya. Kemajuan Iptek memang sedikit banyak berdampak positif dan negatif bagi masyarakat.

Salah satu dampak positifnya adalah lebih mudahnya kita dalam mengakses informasi, para kalangan santri juga dapat berdakwah atau menyiarkan kebaikan melalui media sosial. Namun disisi lain internet juga berdampak negatif, yaitu dapat membuat “candu” bahkan ketergantungan bagi para penggunanya.

Menyikapi masalah di atas, kalangan santri mendukung perkembangan Iptek, asalkan tetap digunakan dalam hal kebaikan, dalam konteks kegiatan yang bersifat positif, dengan tetap mempertimbangkan manfaat dan mahdhorotnya. Karena santri juga harus mengikuti arus perkembangan zaman.

  • Pergaulan bebas, kemerosotan moralitas dan mentalitas dikalangan terpelajar.

Hal tersebut adalah salah satu tantangan globalisasi yang paling berat. Dalam pembahasan sebelumnya, sudah dijelaskan bahwa pendidikan nasional hanya menekankan pada aspek pengetahuan, tanpa diimbangi dengan penekanan pada aspek moralitas dan mentalitas anak didiknya.

Disini seorang santri harus mampu memberikan contoh sikap dan sifat yang baik, akhlak yang baik, sopan – santun, (baik dalam perkataan, baik dalam perbuatan dan tindakan), dengan demikian akan memberikan interaksi positif terhadap lingkungan sekitar. Karena  segala sesuatu dimulai dari diri kita sendiri, tingkah laku yang baik akan menghasilkan lingkungan yang baik pula.

Contoh diatas adalah sedikit dari banyaknya tantangan globalisasi. Pendidikan moral atau akhlak merupakan suatu proses fungsionalisme agama. Keberagamaan tidak akan berarti tanpa dibuktikan dengan moral yang terpuji.

Realitas pelajar kita saat ini cenderung malas, sering melanggar aturan dan norma – norma kehidupan bahkan cenderung brutal dan anarkis, sikap seperti itu  menunjukkan betapa rapuhnya moral mereka diera yang serba modern seperti ini. Hal semacam ini menjadi tantangan bagi para santri guna mengambil inisiatif dalam menegakkan konsep “amar ma’ruf nahyi munkar”. Disini santri dituntut untuk bisa bertindak secara nyata sebagai agent of change, bukan hanya sekedar bisa “ngaji”.

Oleh : Vita Ardiana Sari (IPPNU Ngalian Tirto)

Daftar Pustaka :

Untung, Moh. Slamet. Wacana Islam Kontemporer. Pekalongan: STAIN Pekalongan Press. 2011.

Wawancara dengan Khafidzin, santri Pondok Pesantren Salafi Wonopringgo – Pekalongan.

Wawancara dengan Fadli Abiguz Zuhri, Santri Pondok Pesantren Al Ishlah Darussalam – Semarang, Mahasiswa IAIN Pekalongan.

Wawancara dengan Muhammad Fahmi, Santri Pondok Pesantren Al – Anwar, Mranggen – Demak, Mahasiswa IAIN Pekalongan.

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan