You are currently viewing Hari Raya Idul Fitri Sebentar lagi Datang, Harus Sedih atau Senang?

Hari Raya Idul Fitri Sebentar lagi Datang, Harus Sedih atau Senang?

Sebulan sudah kita semua melewati Ramadan, sebulan sudah kita berpuasa dan tadarusan, sebulan sudah kita melaksanakan terawih dan beramal sholeh. Kini, hari raya pun segera tiba, hari yang dinanti-nanti kedatangan, hari kemenangan bagi setiap manusia, umat muslim khususnya. Dimana, pada hari itu kita semua kembali ke dalam keadaan putih bersih tak bernoda.

            Tentunya hari raya tahun ini agak sedikit berbeda dengan yang sebelum-sebelumnya, ada larangan mudik, halal-bihalal keluarga mungkin sedikit terbatas karena harus menaati protokol kesehatan, dan silaturahim pun akan sangat terbatas dan tidak leluasa seperti biasanya. Kita maklumin bersama tentunya semua itu demi menjaga keselamatan dan kesehatan kita semua dari pandemi corona.

            Namun sejatinya, itu semua tidak mutlak menjadi alasan untuk tidak berbahagia di hari raya bukan? Di masa-masa PSBB saat ini nyatanya kita masih tetap bisa berkumpul dengan keluarga di rumah, atau mungkin dengan teman kos dan tetangga bagi yang masih di perantauan, tentunya dengan menaati prosedur kesehatan yang ada. Kita masih bisa saling bermaaf-maafan, bedanya mungkin kali ini cukup via media sosial. Intinya kan esensi saling memaafkannya itu yang diutamakan, jadi walaupun tidak berkunjung atau bersilaturahim secara langsung, asal sudah saling memaafkan sih kiranya sudah tercukupkan.

            Kebanyakan orang pastinya akan bergembira dan merasa senang bila hari raya idul fitri datang, karena itu merupakan hari kemenangan atas sebulan penuh kita berpuasa di Ramadan. Tapi apa kalian yakin semua orang pasti bergembira di hari raya? Ternyata ada juga orang yang justru bersedih ketika hari raya idul fitri datang. Siapakah mereka? Lalu kenapa mereka justru bersedih bukannya berbahagia? Tentunya mereka bersedih bukan karena tidak bisa mudik atau berkumpul dengan keluarga ya.

            Di dalam kitab Lathoif al-Ma’arif dijelaskan, bahwa para Ulama Salaf terdahulu ketika hari raya Idul Fitri datang kebanyakan dari mereka justru bersedih, tak jarang kesedihan mereka nampak jelas dari raut wajahnya. Dan ketika ada orang yang bertanya kepada mereka kenapa justru bersedih di hari raya, hari yang seharusnya berbahagia. Mereka menjawab; kamu memang benar, hari ini adalah hari raya hari dimana kita semua berbahagia, namun bagaimanakah aku ini adalah seorang hamba yang diutus Tuannya untuk beramal kepadanya, dan aku tak akan pernah tahu apakah amalku itu diterima atau ditolak oleh-Nya.

            Ibnu Jauzi dalam kitabnya al-Nur fi  Fadhoil al-Ayyam wa al-Syuhur juga menceritakan bahwa Sholeh bin Abdul Jalil ketika dia berkumpul dengan keluarga dan sanak familinya di hari raya Idul Fitri, dia duduk dan bersedih. Kemudian para sudaranya bertanya kepadanya kenapa justru bersedih di hari bahagia. Dia menjawab; kalian benar hari ini memang hari bahagia, namun aku sampai saat ini tidak tahu dan tak akan pernah tahu apakah semua amal yang telah ku lakukan itu diterima oleh-Nya, oleh sebab itulah sudah selayaknya aku lebih baik bersedih.

            Abdul Aziz bin Abu Rowad pernah berkata;

أدركتهم يجتهدون فى العمل الصالح فإذا فعلوه وقع عليهم الهم أتقبل منهم أم لا؟

Aku tahu bahwa mereka (Ulama Salaf) telah bersungguh-sungguh dalam melakukan amal-amal sholeh, ketika mereka telah melakukan itu semua mereka ditimpa kesedihan apakah semua amal amal tadi itu diterima atau tidak?

            Pada intinya hari raya Idul Fitri memang adalah hari kemenangan dan hari kebahagiaan, dan memang tak ada yang melarang untuk berbahagia di hari raya. Namun dari beberapa kisah tadi yang disebutkan, hendaknya kebahagiaan kita di hari raya ini tidak melalaikan kita semua dari memikirkan apakah amal-amal kita selama sebulan di bulan Ramadan ini diterima ataupun tidak. Alangkah baiknya lagi jika di hari raya justru ibadah kita semakin ditingkatkan dengan senantiasa berdoa dan memohon agar semua amal-amal kita itu diterima oleh-Nya.

            Dan bersedih di hari raya pun boleh-boleh saja, seperti mungkin sedih karena tidak bisa mudik dan tidak bisa berkumpul dengan keluarga di kampung, sedih karena tidak ada halal bihalal keluarga besar, sedih karena tidak bisa bersilaturahim. Tapi dari itu semua, seperti yang dijelaskan tadi, lebih baik kesedihan kita jangan hanya berlarut-larut karena dampak PSBB seperti tidak bisa mudik dan semacamnya yang akhirnya kita melalaikan kesedihan dan kekhawatiran apakah amal-amal kita selama sebulan di Ramadan itu di terima atau tidak oleh-Nya. Wallahu a’lam.

Penulis : Aghnin Khulqi

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan