You are currently viewing Gerakan IPNU-IPPNU Lewat Sebuah ‘Rutinan’
Rutinan

Gerakan IPNU-IPPNU Lewat Sebuah ‘Rutinan’

Salah satu badan otonom Nahdlatul Ulama (NU) yakni Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) telah dikenal luas oleh masyarakat sebagai organisasi yang memiliki banyak kegiatan.

Di organisasi yang berdiri pada era 1950-an ini, ada berbagai macam kegiatan atau aktivitas yang dapat dimanfaatkan setiap kader/anggotanya untuk mengembangkan skill atau menambah pengetahuan. Hampir setiap pekan selalu ada kegiatan, entah yang bersifat keagamaan, sosial, atau bahkan hanya sekedar rapat.

Salah satu kegiatan yang biasa dilakukan IPNU-IPPNU adalah ‘Rutinan’. Di wilayah saya, kegiatan ini memang dinamakan ‘Rutinan’, kalau di daerah lain (luar Pekalongan) mungkin punya penyebutan nama yang berbeda-beda.

Entah sejak kapan, acara yang dinamakan ‘Rutinan’ ini menjadi agenda khas dari IPNU-IPPNU. Kegiatan ‘Rutinan’ seperti telah mendarah daging di tubuh IPNU-IPPNU. Jika diumpakan, kegiatan-kegiatan yang lain itu adalah tubuh (jasad), maka ‘Rutinan’ adalah ruhnya.

‘Rutinan’ yang saya maksud disini adalah kegiatan yang dilakukan IPNU-IPPNU yang sifatnya rutin, biasanya seminggu satu kali, dua minggu sekali atau bahkan mungkin ada yang satu bulan sekali. Kenapa dinamakan ‘Rutinan’? ya karena kegiatannya istiqomah, rutin, konsisten, terus menerus.

Al Istiqomah Khoirun Min Alfi Karomah, yang artinya konsistensi itu lebih baik daripada seribu karomah. Dari hadits Nabi SAW ini betapa luar biasanya kekuatan istiqomah. Allah SWT berikan kepada orang yang istiqomah 1000 karomah, satu karomah saja sudah dahsyat apalagi 1000 karomah.

Secara umum, yang menjalankan kegiatan ‘Rutinan’ adalah Pimpinan Ranting (PR), Pimpinan Anak Cabang (PAC) dan Pimpinan Komisariat (PK). Hal ini bukan berarti saya menilai PC, PW, dan PP tidak melakukan ‘Rutinan’, tetapi konteks ‘Rutinan’ disini memang yang sering melakukan di ranah ranting, anak cabang dan komisariat.

Saya yakin setiap ranting pasti ada kegiatan yang namanya ‘Rutinan’, entah seminggu sekali atau dua minggu sekali. Biasanya, kegiatan ini di tempatkan di rumah-rumah anggota IPNU-IPPNU, di mushola, majlis, sekretariat, dan tempat lain yang representatif.

‘Rutinan’ yang dilaksanakan oleh IPNU-IPPNU bukanlah acara kumpul-kumpul yang tidak jelas, sebab di dalamnya ada banyak sekali manfaat.

Lantas kegiatan ‘Rutinan’ itu diisi dengan acara apa saja sih?

Menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars IPNU-IPPNU, Mars Syuhbanul Wathon, sambutan ketua IPNU atau IPPNU, pembacaan yasin tahlil, atau maulid al barzanzi, atau sholawat nariyah, dan sebagainya. Kemudian ada sesi mengaji atau diskusi, dan yang terakhir ramah tamah merupakan isi dari kegiatan ‘Rutinan’.

Ada banyak manfaat yang dapat dipetik oleh kader IPNU-IPPNU secara pribadi maupun secara organisasi dengan diadakannya ‘Rutinan’. Manfaat pertama adalah dapat meningkatkan jalinan silaturrahim, meningkatkan persaudaraan yang erat, dan dapat mempersatukan antar anggota satu dengan yang lainnya. Sebab seringnya bertemu membuat mereka bisa kenal satu sama lain.

Manfaat kedua adalah sebagai wadah belajar. Dalam ‘Rutinan’ pasti disitu terdapat MC (baca: Master Of Ceremony) atau orang yang bertugas memandu sebuah acara. Dari situ, kader bisa belajar, belajar bagaimana berbicara di depan umum, belajar bagaimana publik speaking yang baik. Selain itu, ada pula yang bertugas sebagai pembaca tawasul atau orang yang memimpin pembacaan yasin tahlil. Poin ini menjai penting karena suatu saat ketika diminta melakukan hal yang sama di masyarakat, kita sudah punya bekal. Kader IPNU minimal bisa lah memimpin pembacaan yasin dan tahlil.

Selain dua hal pokok tersebut (MC dan pemimpin yasin tahlil), masih banyak lagi ruang belajar yang bisa dimanfaatkan dari kegiatan ‘Rutinan’ ini, tinggal bagaimana kitanya sebagai kader mau belajar atau tidak.

Manfaat ketiga, dengan mengadakan ‘Rutinan’, maka kita sudah ikut serta menjaga dan melestarikan amalan Aswaja An Nahdliyah atau Aswaja ala NU. Nah bagaimana tidak? Lah wong setiap rutinan selalu bergema suara lantunan orang-orang yang membaca yasin tahlil, membaca Maulid barzanji, nariyahan dan sebagainya.

NU sendiri merupakan organisasi yang sampai saat ini konsisten menyebarkan dan mengamalkan ajaran Aswaja. Karena, di dalam Aswaja sendiri terdapat nilai-nilai luhur seperti tawassuth (moderat), tawazun (seimbang), tasamuh (toleransi), dan i’tidal (adil).

Manfaat keempat, dengan melaksanakan ‘Rutinan’, maka kita sudah berusaha untuk menjadi pemuda-pemudi yang cinta NKRI. Karena di dalam ‘Rutinan’ terdapat menyanyikan lagu Indonesia Raya. Lagu yang diciptakan oleh WR Supratman ini menurut saya penting untuk dinyanyikan pada saat ‘Rutinan’. Sebab untuk mengenalkan kepada anggota IPNU-IPPNU bahwa menyanyikan Lagu Indonesia Raya dengan penuh semangat merupakan perbuatan cinta NKRI.

Rasa cinta terhadap negara sendiri harus ditanamkan sejak dini. Para ulama NU terdahulu merupakan tokoh-tokoh yang ikut berperan dalam mewujudkan kemerdekaan Republik Indonesia. Para ulama juga selalu mengajarkan kepada santrinya agar senantiasa mencintai dan menjaga NKRI.

Manfaat kelima, dengan menjalankan ‘Rutinan’, kita sudah berusaha menjadi pribadi yang senantiasa mengamalkan amal shalih. Sebab di dalam ‘Rutinan’ ada berbagai acara yang mengandung banyak sekali manfaat. Misalnya, ada sesi mengaji kitab kuning atau diskusi seputar organisasi atau ke-NU-an.

Hal tersebut berarti ada sebuah ilmu yang kita berikan atau kita dapatkan, dan acara seperti ini termasuk amal kebaikan. Allah SWT berfirman dalam surat Al-Bayyinah ayat 7 “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih, merekalah makhluk yang terbaik”. Dan semoga, kita yang ber-IPNU-IPPNU termasuk salah satu diantara makhluk terbaiknya gusti Allah SWT.

Penulis : Khairul Anwar

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan