Filosofi Belajar, Berjuang Dan Bertaqwa

Belajar, berjuang dan bertaqwa mempunyai filosofi yang sangat luar biasa bila kita dapat memahaminya secara komprehensif, pastinya akan melahirkan kader-kader yang militansi sesuai harapan daripada Nahdlatul ‘Ulama, dikarenakan IPNU IPPNU adalah awal cikal bakal generasi penerusnya. Akan tetapi, Apakah selama ini semua kader NU dapat memahami makna Trilogi tersebut sesuai substansinya, sebelum diimplementasikan dalam pribadi maupun organisasi. Permasalahan ini bukan hal yang sepele, karena bila sampai tidak memahaminya akan bertentangan dengan pola pikir yang sudah menjadi budaya ditubuh NU. Untuk itu, sedikit kami paparkan makna daripada Trilogi IPNU IPPNU.

Pertama, kader muda NU dibekali dengan diawali kata Belajar. Penempatan kata yang sangat tepat didahului kata Belajar, kenapa bukan Berjuang terlebih dahulu? Sangat tidak rasional seseorang akan berjuang tanpa terlebih dahulu belajar. Apa yang akan diperjuangkan?. Zaman akhir ini perjuangan bukan lagi dengan memegang senjata seperti para pejuang terdahulu,  akan tetapi berjuang melawan moral. Kembali pada kata Belajar, definisinya pastinya sudah mengerti, yakni mencari ilmu “Tholabul ‘ilmi faridlotul ‘ala kulli muslimin wal muslimat”.  Dari Lahir, sampai Meninggal, “uthlubul ‘Ilma minal mahdi ilal Lahdi”. Namun disini kami akan membahas cara Belajar didalam organisasi IPNU IPPNU untuk mencapai Kader yang sesuai dengan harapan NU. Pembelajaran diorganisasi tentunya relatif cepat untuk langsung diterapkan, karena tidak sama seperti halnya disekolah yaitu sistem KBM. Didalam organisasi ini lebih megedepankan aksi karya nyata, artinya sambil menyelam minum air. Disini para yunior, atau anggota yang  baru masuk mengikuti/membantu apa yang senior/pembina perintahkan,artinya disini senior akan menuntun secara perlahan kader tersebut, sehingga akan mengerti dan memahami yang harus dilakukan dalam setiap kegiatan. Harus dibedakan bahasa diperintahkan antara di IPNU IPPNU dengan di instansi/kemiliteran. Didalam IPNU IPPNU istilah tersebut bukan menyuruh, akan tetapi harus ditangkap pada yunior bahwasannya yunior harus belajar ta’dhim.

Ta’dhim inilah yang terkadang menjadi tolak ukur manfaat seseorang berada didalam wadah seluruh banom NU, apalagi ketika seorang Ulama NU yang memerintahkan, tidak ada jawaban selain SIAP.  Dari sinilah manfaat keberkahan yang akan tertanam pada setiap individu seorang kader, karena selang waktu hingga akhir sekarang ini semakin banyak anggota bahkan pengurus yang kurang menjalankan keta’dhiman tersebut, merasa sudah paling pintar, paling pandai, paling tua dan lain sebagainya.

Kedua setiap kader belajar untuk memahami karakter anggotanya, karena didalam organisasi berkumpul bermacam jenis karakter seseorang, yang nantinya disatukan pemikirannya dalam satu visi yang sama. Terutama pada sikap seorang Ketua yang memimpin anggotanya, sudah barang tentu harus bijaksana dalam mengambil keputusan, memahami dan menerima semua pendapat. Meskipun seorang ketua pada dasarnya didalam Banom NU yang paling dasar yaitu IPNU IPPNU, tidak ada seorangpun yang merasa paling menguasai, konteksnya disini masih tahap Belajar, tidak ada yang merasa paling benar atau pun disalahkan, yang berhak mengoreksi adalah para senior ataupun Pembina, dalam istilahnya adalah evaluasi. Terkadang beberapa kader terbawa nafsu amarahnya, yang akhirnya munculah sifat Arogansi karena  merasa memiliki jabatan yang tinggi. Perlu diketahui, tidak semua orang mau mengikuti atau berjuang didalam organisasi, maka daripada itu  sudah ikut serta didalam organisasi merupakan syukur yang luar biasa, dan sampai ada orang  atau bahkan sudah menjadi pengurus terus sampai keluar tidak mengikuti lagi karena faktor permasalahan internal, maka kepemimpinan seseorang tersebut belum sesuai dengan kader NU yang sebenarnya. Setiap kader harus pandai dalam merawat dan menjaga anggotanya.

Ketiga, Belajar dari sejarah dan problematika yang berkembang pada bangsa dan negara, terlebih pada lingkungan setempat. Kelemahan dan kemunduran kader muda NU juga karena kurangnya wawasan pada setiap individu. Melemahnya wawasan tersebut karena malas atau tidak tertarik lagi dalam membaca sejarah dan keingintahuan mengenai tentang IPNU, IPPNU, NU, Problematika negara dan sebagainya. Zaman sekarang sudah tidak sulit dalam mencari informasi atau pengetahuan yang lain, karena fasilitas internet sudah sangat efektif menjadi kendaraan seseorang dalam mengetahui berbagai informasi dan ilmu pengetahuan. Kegemaran dalam membaca buku-buku juga saat ini sudah mulai tidak dilirik, yang akhirnya banyak kader yang pandai berbicara akan tetapi tidak berbobot penyampaiannya karena kuarangnya ilmu pengetahuan yang dimiliki.

Faktor yang lain tradisi ngopi bareng plus udud. Kebiasaan yang dilakukan kebanyakan warga NU dalam tukar pikir dan sharing ilmu. Kebiasaan ini sudah sering dilakukan para senior dan pembina, sambil moci diskusi kecil-kecilan, tidak lain membahas seputar organisasi dan perkembangannya. Akan tetapi saat ini sudah mulai tidak diikuti, salah satu contoh ketika sowan kepada Ulama, Pengurus NU, Pembina, duduk belum ada 1 jam sudah mulai merasa gelisah. Heran, padahal ketika pengurus IPNU IPPNU rapat atau sekedar berkumpul bisa berjam-jam, harus dapat dipilah seharusnya, dimana duduk bersama orang-orang yang lebih tinggi atau sepuh banyak ilmu yang didapatkan dari pengalaman-pengalaman beliau.

Kata Semboyan berikutnya adalah Berjuang. Saya ingat betul ketika mendapat ijasah dari KH. Cholil Staquf bahwa beliau kurang lebihnya menuturkan “Apabila kalian sudah bangkit (berjuang), jangan sampai mundur, apapun yang terjadi, berjuanglah terus untuk NU” begitulah kurang lebihnya yang beliau sampaikan. Sebuah motivasi untuk setiap kader IPNU IPPNU dalam mengawal Aswaja di Nusantara khususnya dan Internasional pada umumnya. Penempatan yang sangat tepat, kata berjuang diletakan setelah Belajar, bila tanpa didasari dengan ilmu yang kita miliki, lalu apa yang akan diperjuangkan. Hasil daripada perjuangan yang sudah dikerjakan hasilnya akan terlihat antara berjuang yang didasari ilmu (pengetahuan dan akhlaq) dengan yang tidak, atau juga berbeda antara yang hanya menggunakan pengetahuan saja tanpa akhlaq (ta’dhim, tawadhu, dll) dengan yang menggunakan akhlaq, masih lebih baik yang menggunakan akhlaq meskipun pengetahuannya kurang, karena dengan akhlaq akan selalu menerima dan membuka diri dari masukan-masukan orang lain.

Dalam berjuang setiap kader tentunya sudah siap menerima berbagai masalah, dan yang lebih berat ketika menghadapi masalah internal, karena bila internal (pengurus dan anggota) sampai terpecah, lalu bagaimana kita berjuang menghadapi masalah eksternal (Kelompok radikal atau permasalahan bangsa negara). Menjaga kondisi kader untuk tetap berada pada garis perjuangan saja sudah sangat berat sekali, belum sampai ke doktrin untuk dicetak militansinya.  Harus dengan etika yang baik, cerdas, sabar dan tawakal dalam menjaga dan merawat kader.

Terakhir adalah Bertaqwa. Sesuai dengan definisinya, yaitu menjalankan semua perintah Allah SWT dan menjahui segala larangan-laranganNya. Semua yang mengatur bumi dan langit adalah Allah SWT,  termasuk perjuangan seseorang didalam organisasi, dari masalah sampai hasil adalah sepenuhnya Ketentuan Allah SWT, yang demikian untuk menjadi pegangan seseorang dalam kehidupan ini agar selalu sabar dalam menyikapi permasalahan yang terjadi, ikhlas dalam berjuang, tawakal dari ikhtiar yang sudah dilakukan. Insya Allah bila perjuangan dilandasi ketaqwaan, Allah SWT akan selalu memudahkan dalam setiap permasalahannya dan mencukupi segala kebutuhan hambaNya.

Wallahu’alam bishshowab. Coretan ini hanyalah kebodohan penulis dengan berimpian semoga bermanfaat bagi setiap yang membacanya. Salam Pelajar Hijau, Belajar, Berjuang dan Bertaqwa.

Nanang Hermanto (Ketua PAC Karanganyar Kab Pekalongan)

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan