You are currently viewing Ecobrick Solusi Atasi Sampah Plastik dan Meningkatkan Produktivitas Masyarakat

Ecobrick Solusi Atasi Sampah Plastik dan Meningkatkan Produktivitas Masyarakat

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tidak terlepas dari penggunaan plastik. Mulai dari makanan, minuman serta barang-barang lainnya dibungkus menggunakan plastik. Penggunaan plastik dipilih karena lebih praktis dan ekonomis. Pembungkus dari plastik mudah didapatkan dari pada pembungkus lainnya. Dalam hal pengemasan makanan, penggunaan plastik lebih efektif dipakai dan tahan lama dari pada penggunaan daun pisang yang mudah mengering. Selain itu, kualitas pengemasan akan terlihat lebih menarik dibandingkan dengan pembungkus lainnya.

Manusia telah dimanja dengan berbagai kemudahan dari penggunaan plastik. Tanpa disadari bahwa penggunaan plastik yang berlebihan juga akan membuat jumlah limbahnya meningkat. Hal tersebut akan berdampak negatif pada lingkungan. Pasalnya, limbah atau sampah plastik sulit terurai oleh mikro organisme karena memiliki rantai karbon yang panjang. Bahkan sampai sekarang ini, sampah plastik menjadi masalah utama yang sulit diatasi oleh berbagai negara di dunia.

Plastik adalah material baru yang secara luas dikembangkan oleh Montgomery Ward, Sears, J.C Penny, Jodan Marsh dan mulai digunakan sejak tahun 1975 atau sekitar abad ke 20. Sampai sekarang ini, plastik sudah dikelompokkan menjadi beberapa jenis. The Society of the Plastic Industry (SPI) telah mengelompokkannya menjadi 7 jenis plastik, yaitu Polietilen Tereftalat (PETE), High Density Polietilen, Polivilinil Klorida (PVC), Low Density Polietilen (LDPE), Polipropilen (PP), Polistiren (PS), Plastik lain (Polikarbonat atau ABS). Jenis plastik yang sering ditemukan oleh masyarakat pada umumnya mempunyai sifat yang mudah diproses, tangguh, kuat, fleksibel, mudah disegel, dan tahan lembab. Misalnya dalam penggunaan kantong makanan beku, botol remas (kecap, saus, madu), dan bungkus plastik lainnya.

Dari berbagai negara di dunia, Indonesia menjadi salah satu penyumbang sampah plastik terbanyak. Dengan kurang lebih 3,2 juta ton sampah plastik setiap tahunnya. Sebagian besar sampah plastik tersebut, tidak terolah sehingga mencemari lingkungan dan sering menyebabkan banjir diberbagai daerah. Oleh karena itu, masyarakat diharapkan mampu mengolah sampah plastik tersebut,  demi terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan mencegah terjadinya banjir yang dapat merugikan masyarakat itu sendiri.

Mengolah sampah plastik merupakan cara yang tepat untuk mengatasi dampak negatif sampah plastik. Salah satu pengolahannya adalah dengan cara ecobrick. Ecobrick sendiri adalah pengolahan sampah plastik yang dikemas menggunakan botol plastik bekas sesuai dengan standar sekuestrasi plastik untuk membuat blok bangunan yang dapat digunakan kembali. Contoh pengaplikasiannya adalah sebagai pengganti meubel seperti meja, kursi, ranjang, dan lainnya. Yang mana fungsinya adalah untuk memperpanjang usia plastik-plastik dan mengolahnya menjadi sesuatu yang berguna bagi masyarakat umum, bukan untuk menghancurkannya.

Ecobrick pertama kali ditemukan pada tahun 2010 oleh Rusel Maier seniman asal Kanada yang tinggal di Indonesia. Pada saat itu Rusel Maier pergi ke luar negeri bersama istrinya Ani Himawati yang berasal dari Indonesia. Kemudian disana mereka melihat begitu banyaknya sampah plastik yang berserakan. Pasangan ini sangat menyadari tentang bahaya sampah plastik untuk masa kini dan masa yang akan datang. Oleh karena itu, mereka berusaha mencari cara untuk mengatasi hal tersebut. Hingga pada akhirnya, mereka menemukan teknik ecobrick yang digunakan sebagai salah satu cara untuk  mengolah sampah plastik. Kini ecobrick menjadi salah satu pengolahan sampah plastik yang cukup eksis di kalangan masyarakat dan memiliki nilai jual. Bahkan sekarang ini, ecobrick sudah memiliki komunitas di dunia internasional, dengan media penghubung melalui website https://www.gobrick.com.

Pengolahan sampah plastik dengan teknik ecobrick memiliki standar yang harus dipenuhi. Berat ecobrick yang baik adalah (0,33 x volume) botol yang digunakan. Plastik yang dipakai juga harus bersih dan kering sehingga tidak menimbulkan bakteri yang dapat merusak ecobrick. Jenis plastik yang digunakan berupa botol bekas minuman ringan sebagai tempat atau wadah ecobrick. Untuk isinya, jenis plastik yang digunakan mempunyai sifat yang lembut dengan tekstur yang mudah dibentuk seperti, plastik bungkus makanan, plastik bungkus minuman sachet, plastik pembungkus barang elektronik, serta jenis plastik lembut lainnya. Dalam proses pembuatannya, plastik dipotong kecil-kecil agar mudah dimasukkan ke dalam botol. Selanjutnya potongan plastik dipadatkan sampai tidak ada ruang kosong di dalammya.

Selain bisa mengurangi limbah ecobrick juga memiliki nilai jual, dibuktikan dengan banyak marketplace yang kini mulai menjualnya. Hal tersebut berpengaruh terhadap kreativitas dan produktivitas masyarakat yang semakin meningkat. Pekalongan kini menjadi salah satu komunitas aktif ecobrick di Indonesia. Tiga diantaranya adalah komunitas ecobrick SMP Negeri 10 Pekalongan, komunitas ecobrick SMP Negeri 9 Pekalongan dan komunitas ecobrick SMP Negeri 2 Pekalongan. Ketiga komunitas ecobrick tersebut telah aktif sejak tahun 2019 yang dikelola oleh Pak Budi Purwanto dan teman-temannya.  Menurut Pak Budi, “Ecobrick adalah kegiatan yang ingin membuat orang tertarik dan peduli akan sampah lingkungannya”. Dengan adanya teknik ecobrick ini, diharapkan masyarakat menjadi lebih peduli dengan lingkungan sekitar dan tidak mencemarinya.

Oleh : Faiza Nur Rahmah (IPPNU PAC Kesesi)

Daftar Pustaka:
Putra, Hijrah Purnama dan Yebi Yuriandala. 2010. “Studi Pemanfaatan Sampah Plastik Menjadi Produk dan Jasa Kreatif”. Diakses dari https://journal.uii.ac.id/JSTL/article/view/3579, pada 8 Februari 2021 pukul 16.38.
Suminto, Sekartaji. 2017. “Ecobrick: Solusi Cerdas dan Kreatif untuk mengatasi sampah plastik”. Diakses dari http://journal.isi.ac.id/index.php/PRO/article/download/1735/495, pada 8 Februari 2021 pukul 14.18.
Sumber data :
Budi Purwanto (Trainer Ecobrik Pekalongan)

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan