You are currently viewing Bertasamuh Dalam Bermedia Sosial

Bertasamuh Dalam Bermedia Sosial

Pernah nggak sih kalian denger berita tentang orang-orang yang di penjara hanya gara-gara main media sosial (medsos). Padahal cuma main media sosial, tapi bisa apes begitu. Kok bisa ya? Apa alasannya? kenapa bisa seperti itu? itulah sejumlah pertanyaan yang mungkin sering muncul dalam benak kita.

Kasus orang di penjara atau minimal di denda hanya karena bermain di media sosial sudah bukan rahasia umum lagi. Tak terhitung berapa jumlahnya yang pernah terjadi di Indonesia atau bahkan di dunia.

Secara umum, hukuman penjara atau denda itu untuk orang-orang yang melanggar hukum, yang biasanya merugikan orang lain. Nah, dalam kaitannya dengan media sosial, sudah barang tentu orang-orang yang di penjara itu juga mungkin melanggar hukum ketika bermedia sosial.

Keberadaan media sosial sendiri sudah menjadi bagian tak terpisahkan dalam kehidupan manusia gaes. Lewat media sosial, kita bisa berkomunikasi dengan orang yang jauh di luar sana. Bahkan terkadang media sosial dapat membantu seseorang dalam pekerjaan bahkan mencari pekerjaan.

Tapi tahu nggak gaes? ketika berselancar di media sosial, kita diawasi oleh UU ITE lho. UU ITE ini adalah Undang-Undang yang mengatur tentang Informasi Elektronik dan Transaksi Elektronik.

Undang-undang tersebut bernomor 11 tahun 2008 yang disahkan oleh Presiden SBY pada 21 April 2008 di Jakarta. Sejumlah hal diatur dalam UU tersebut mulai dari penggunaan hingga aturan atau sanksi bagi penyalahgunaan informasi dan transaksi elektronik.

Pada 2016, UU ITE sempat direvisi oleh Dewan Perwakilan Rakyat (DPR). DPR merevisi UU tersebut dengan mengesahkan UU Nomor 19 Tahun 2016 sebagai perubahan UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE.

Sebagai catatan, berdasarkan data monitoring dan pengaduan yang dicatat Southeast Asia Freedom of Expression Network (SAFEnet) sejak Januari hingga Oktober 2020, ada 35 kasus pemidanaan menggunakan pasal-pasal dalam UU tersebut.

Di sini, penulis tidak akan membahas lebih lanjut mengenai undang-undang tersebut. Garis besar dalam tulisan ini adalah kita khususnya kalangan generasi muda Nahdlatul Ulama (NU),  harus selalu berhati-hati dalam menggunakan media sosial gaes.

Sebab, seperti halnya kita hidup di dunia gaes, yang selalu diawasi oleh Allah SWT, ketika kita hidup di dunia maya, maka UU ITE inilah yang menjadi pengawas kita. Salah sedikit saja, bisa-bisa kita juga terjerat pasal-pasal yang terdapat dalam UU ITE.

Kehati-kehatian inilah yang harus kita kedepankan dalam bermedia sosial. Tidak sedikit orang-orang bermain media sosial dengan sembarangan tanpa adanya batasan. Padahal, kita harus bijak dalam menggunakan media sosial untuk menjaga diri.

Pasalnya, apa yang kita bagikan ke media sosial tentu akan menjadi konsumsi publik. Hal ini tentu berbahaya apabila kita membagikan hal yang sembarangan atau tidak baik.

Generasi muda NU harus memperhatikan dan memikirkan kembali konten-konten yang hendak diupload dan disebarluaskan di dunia maya. Hal ini penting untuk menghindari konflik komentar yang terkadang akan berbuntut panjang.

Sebagai generasi muda NU, kita tidak boleh sembarangan dalam menggunakan media sosial. Paling tidak, kita harus coba menerapkan prinsip-prinsip Ahlussunah Waljamaah (Aswaja) dalam bermedia sosial, salah satunya adalah prinsip Tasamuh. Tidak hanya di dunia nyata saja kita menerapkan prinsip tasamuh. Namun juga di dunia maya. 

Sikap tasamuh atau toleransi adalah menghargai perbedaan serta menghormati orang yang memiliki prinsip hidup yang tidak sama. Namun bukan berarti mengakui atau membenarkan keyakinan yang berbeda tersebut dalam meneguhkan apa yang diyakini.

Dalam Islam sendiri, sikap tasamuh ini penting sekali untuk ditekankan. Apalagi bagi negara yang memiliki budaya yang majemuk seperti Indonesia, tentu sikap tasamuh sangat pentng diterapkan.

Kalimat kuncinya adalah menghargai dan menghormati setiap perbedaan yang ada. Pentingnya tuh disini gaes. Ketika bermedia sosial, kita pastinya akan dihadapkan dengan berbagai macam orang. Ada orang yang baik dan tidak baik, bahkan ada orang yang mudah tersinggung dan lain sebagainya.

Nah, apabila terdapat berbagai macam karakter orang-orang tadi, kita tidak boleh tuh sembarangan dalam menulis kalimat, memuat gambar atau tindakan lain yang dapat menyinggung dan merugikan pihak lain.

Kita harus berhati-hati mengungkapkan perasaan atau membuat pernyataan di media sosial supaya tidak melanggar UU ITE. Prinsipnya kita harus selalu mengedapankan sikap saling menghormati dan menghargai antar sesama.

Terkadang kita menjumpai banyak status atau kalimat-kalimat baik di facebook, twitter, maupun instagram yang bertujuan untuk membuat keonaran dan memecah belah persatuan. Hal itu menandakan bahwa mereka tidak menerapkan prinsip tasamuh dalam bermedia sosial.

Kalima-kalimat berbau hinaan, bullyan, SARA, ujaran kebencian dan lain sebagainya tidak boleh kita lakukan. Generasi muda NU, yang notabene sudah mengenal aswaja, prinsip tasamuh ini harus selalu dijunjung tinggi, utamanya juga saat bermedia sosial.

Bentuk sikap menghargai dan menghormati di media sosial yang bisa kita aplikasikan adalah tidak membuat meme atau menuliskan komentar-komentar yang dapat menyinggung perasaan umat lain, suku, atau organisasi lain. Selain itu, bentuk penerapan lain yang bisa kita lakukan adalah dengan menjadikan media sosial sebagai media dakwah amar ma’ruf nahi mungkar.

Kini, sudah saatnya kita bijak dalam bermedia sosial gaes. Menciptakan ruang-ruang toleransi dalam bermedia sosial. Menggunakan media sosial dengan secukupnya dan seperlunya. Dengan bersikap tasamuh, di mana pun akan memberi manfaat bagi perdamaian dan kerukunan masyarakat.

Penulis : Khairul Anwar (Anggota Lembaga Pers dan Penerbitan PC IPNU Kab. Pekalongan)

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan