Benarkah Maulid dan Tahlil itu Bid’ah?
Benarkah Maulid dan Tahlil itu Bid’ah?

Benarkah Maulid dan Tahlil itu Bid’ah?

Bid’ah adalah sesuatu hal baru yang diadakan dan tidak ada pada zaman Rasullulah saw. Ada sebagian golongan muslim yang sangat anti dengan bid’ah, mereka beranggapan bid’ah adalah sesuatu yang salah dan sesat. Anggapan mereka ini berpedoman pada suatu Hadist yang berbunyi “segala sesuatu baru yang tidak ada pada zaman Rasul adalah sesat”. Golongan anti bid’ah ini tak jarang memvonis sesat bahkan kafir kepada orang yang dianggap melakukan bid’ah, termasuk maulid dan tahlil.

            Pada sejarahnya, kelompok anti bid’ah ini muncul pada masa Abdullah bin Abdul Wahab, yang ajarannya sekarang ini lebih dikenal dengan nama Wahabi. Awalnya Abdullah merasa aneh dan janggal terhadap kehidupan umat Islam pada masa itu. Dia melihat berbagai fenomena yang dinggapnya janggal dan tidak ada dalam syariat Islam, seperti contohnya orang yang menangis histeris di depan kuburan. Oleh karena itu dia mulai berinisiatif untuk mengambil langkah meluruskan semua ini dengan mencangangkan suatu ajaran islam yang benar, dan kembali kepada al-Quran dan Hadist. Seperti itulah kurang lebih sejarah singkat munculnya ajaran Wahabi yang anti bid’ah ini.

            Lalu bagaimana dengan maulid dan tahlil? Benarkah keduanya ini bid’ah dan tidak ada pada zaman nabi, benarkah keduanya ini ajaran yang sesat dan menjadikan kafir pelakunya. Sebelum menvonis maulid dan tahlil itu bid’ah, alangkah baiknya kenali terlebih dahulu apa itu tahlil dan maulid.

            Tahlil merupakan rangkaian dzikir dan pembacaan sebagian ayat al-Quran, di dalam tahlil kita membaca dzikir seperti lailaha illallah dan membaca beberapa ayat dan surat dalam al-Quran seperti al-Iklas, an-Nas, dan al-Falaq, dan ditutup dengan doa. Sedangkan maulid adalah suatu rangkaian acara yang di dalamnya berisi pembacaan rowi, sholawat, dan ditutup dengan doa. Adapun makan-makan setelah tahlil dan maulid itu adalah bonusnya.

            Jika melihat dari pengertian tahlil dan maulid di atas, antara tahlil dan maulid ini sama. Keduanya sama-sama mengandung ajaran islam, diantaranya berdzikir, membaca al-Quran, membaca sholawat.

            Secara garis besar ajaran Islam ini dapat dibagi menjadi empat golongan. Pertama, ajaran yang ditentukan waktu dan tempat. Contohnya seperti haji, haji hanya boleh dilaksanakan pada bulan Dzulhijah dan tempatnya adalah di Makkah Almukaromah. Kedua, ajaran yang ditentukan waktunya saja. Contohnya seperti puasa dan sholat. Puasa dibolehkan hanya pada hari-hari yang tidak diharamkan berpuasa. Dan sholat wajib dilaksanakan pada lima waktu yang telah ditentukan, sedangkan tempatnya dimana saja dibolehkan asalkan suci dari najis. Ketiga, ajaran yang ditentukan tempatnya saja. Contohnya umroh, umroh dapat dilaksanakan kapan saja dan tempatnya adalah Makkah Almukaromah. Keempat, ajaran yang tidak ditentukan waktu dan tempatnya. Contohnya dzikir, baca al-Quran, dan sholawat.

            Jika dilihat dari empat golongan ajaran Islam tadi, tahlil dan maulid masuk ke dalam golongan yang keempat, yaitu ajaran yang tidak ditentukan waktu dan tempatnya. Karena dalam maulid dan tahlil ini mengandung bacaan dzikir, al-Quran, dan sholawat. Sedangkan dzikir sudah jelas sudah ada ajarannya sejak zaman Rosul, demikian halnya membaca Al-Quran. Adapun sholawat ada beberapa pendapat yang menafikan bahwa sholawat sudah ada pada zaman nabi, akan tetapi pendapat ini bisa dipatahkan dengan surat Al Ahzab ayat 56, yang sudah jelas di dalamnya mengandung fiil amr berupa perintah bersholawat kepada Nabi saw. Bisa juga dipatahkan dengan kisah Al Bushiri ketika berhenti dalam proses penyusunan qosidah Burdahnya yang didatangi langsung oleh Nabi dalam mimpinya dan menyuruhnya untuk menyelesaikan qosidah burdahnya itu.

            Dari paparan ini sudah jelas dapat disimpulkan bahwa tahlil dan maulid bukanlah bid’ah yang salah ataupun sesat, melainkan murni ajaran islam. Jadi bagi mereka yang masih mengatakan tahlil dan maulid itu bid’ah, bisa dipastikan orang tersebut belum mengenal secara jauh apa itu islam dan belum mengetahui apa saja ajaran-ajaran yang ada di dalam Islam.

Penulis : Aghnin Khulqi

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan