You are currently viewing Belajar Mandiri Untuk Kemandirian Belajar

Belajar Mandiri Untuk Kemandirian Belajar

Sebuah keniscayaan bahwa kehidupan yang selalu berjalan akan menemukan setiap perubahan-perubahan. Baik secara alamiah atau buatan. Hal ini sepadan dengan qodrat manusia yang dikaruniai akal. Terlebih dalil bahwa manusia adalah kholifah fil ardh. Artinya, sudah menjadi tupoksi manusia untuk memanajemen kehidupan, termasuk di dalamnya alam, hewan-hewan, dan tumbuhan-tumbuhan. Tanpa perubahan-perubahan, untuk apa manusia dikaruniai akal?

Sejak lahir manusia sudah mulai menjalankan kemanusiaannya tanpa sadar, yakni belajar. Entah hanya belajar mengenali wajah ibunya atau merekam kejadian sebab akibat di sekitarnya. Seperti bayi yang selalu menangis ketika haus, karena ia merekam kejadian sebelumnya jika ia menangis ia akan diberi ASI. Semakin bertambah usia manusia, semakin kompleks pula hal-hal yang harus diketahui dan dilaluinya, bukan sesederhana haus dan lapar saja. Karena hal tersebut, manusia memerlukan sebuah pembelajaran terus menerus karena perubahan juga akan terjadi terus menerus. Karena itulah Rasul pernah bersabda yang artinya “tuntutlah ilmu dari buaian sampai liang lahat”.

Jika mendengar kata “belajar” tentu kita akan menggunakan pandangan lama dengan membayangkan di dalamnya ada sekolah, kuliah, dan jenjang pendidikan formal lainnya. Tapi, apakah tingkat pendidikan seseorang bisa menjadi tolak ukur kualitas manusia? Jika iya, mengapa masih banyak orang yang pintar kemudian mendapat jabatan tinggi, namun melakukan korupsi? Jadi, sebenarnya belajar itu apa, mengapa seseorang harus belajar? Jika hanya untuk mendapatkan pekerjaan yang gajinya lebih besar, bukankah sekolah justru mengeluarkan biaya?

Sudah menjadi rahasia umum dan sudah digemborkan sejak lama bahwa yang dapat menjawab pertanyaan tersebut adalah dengan pendidikan karakter. Namun, dalam proses aktualisasinya di Indonesia sendiri masih belum dapat mengimplementasikannya pada kurikulum yang dipakai. Contoh kecilnya seperti masih terjadinya pembelajaran satu arah, siswa hanya berperan sebagai penerima ilmu saja, dan di tingkat mahasiswa bahkan ada yang belum memahami bagaimana selayaknya menjadi mahasiswa yang akhirnya bingung setelah lulus mau apa. Jadi, sebenarnya pendidikan karakter itu seperti apa?

Bapak pendidikan Indonesia telah mencetuskan slogan “ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handhayani” yang artinya “di depan memberi contoh, di tengah membangun kemauan, dan di belakang memberi kekuatan”. Ketiga slogan tersebut adalah pedoman bagi seorang pemimpin dalam menyesuaikan diri pada tempatnya. Lalu, apa hubungan antara pendidikan dan kepemimpinan? Jika bapak pendidikan yang mencetuskannya, tentu ada hubungannya bukan?

Pada dasar pancasila yang pertama, dipaparkan bahwa bangsa Indonesia haruslah memiliki “Ketuhanan yang Maha Esa”. Kemudian dalam Al-Qur’an Surat Al-Ikhlas dijelaskan bahwa “hanya kepada Allah tempat kita bergantung”. Artinya, tidak ada keterikatan lain yang dimiliki manusia selain kepada Tuhannya. Jika manusia tertarik dengan hal-hal yang bersifat duniawi artinya ia menyekutukan Tuhannya bukan? Sedangkan hal yang bersifat duniawi adalah yang memiliki sifat baru (hadist), yakni selain Tuhan.

Pendidikan, sebagai media belajar seseorang harusnya memiliki tujuan akhir yaitu “kemandirian”. Karena dengan kemandirian tersebut seseorang akan selesai mengenali dirinya dan siap menjadi khalifah fil ardh. Hal ini senada dengan Sabda Rasulullah yang berbunyi ” كلكم راء و كلكم مسءول عن رعيته” yang artinya “setiap dari kalian adalah pemimpin  dan setiap orang akan dimintai pertanggungjawaban atas perbuatannya sendiri”. Memimpin dirinya artinya tahu bagaimana mengatur ego-nya. Jika seseorang sudah bisa mengatur dirinya sendiri, ia akan bisa juga mengatur lingkungan sekitarnya. Jadi, pendidikan kepemimpinan bukan hanya wajib dimengerti bagi pejabat negara, namun setiap orang harus mengetahuinya. Pendidikan inilah yang kemudian diringkas dalam tiga slogan Ki Hajar Dewantoro.

Kemudian menjawab mengenai mengapa banyak kejahatan muncul dari orang-orang pintar. Kata Aristoteles, manusia adalah zoon politicon, sebuah bukti bahwa manusia dan hewan dibedakan dari jiwa sosialnya. Artinya manusia membutuhkan manusia lainnya, berbeda dengan hewan yang individualis dan ingin menang sendiri. Jika di dalam Al-Qur’an disebutkan bahwa manusia adalah hayawan natiq, yaitu hewan yang berakal. Artinya perbedaan manusia dan hewan ada pada keberakalan manusia, manusia yang mampu menerima dan mengembangkan pengetahuan. Menurut penulis, manusia harus zoon politicon sekaligus hayawan natiq, agar akalnya tidak digunakan untuk memikirkan ambisinya sendiri, tapi digunakan untuk memikirkan kemaslahatan umat. Artinya, jika ada orang yang pintar namun bermasalah pada akhlaknya, artinya ia belum menjadi zoon politicon. Padahal, zoon politicon ini sesuai dengan istilah khalifah fil ardh, yang mana manusia mengabdi dengan ilmu yang dimilikinya untuk kemaslahatan segala yang ada di bumi.

Istilah mengabdi tersebut lebih sering dipahami sebagai seseorang yang bermanfaat. Tapi, bukankah seorang anak yang tidak meminta uang jajan kepada orang tuanya pun itu sudah memberikan kemanfaatkan, terutama orangtuanya merasa diuntungkan. Jadi, untuk apa kita harus belajar jika bukan untuk bermanfaat bagi orang lain?

Untuk bisa benar-benar bermanfaat untuk orang lain, kita juga membutuhkan ilmu. Jika tidak, apalah arti manfaat untuk orang lain jika dari kemanfaatan itu kita malah menarik madhorot. Seperti ketika kita membantu mengerjakan soal ujian teman, bukankah teman kita justru rugi atas bantuan kita? Ia malah kehilangan kesempatan untuk mengembangkan dirinya. Lalu bagaimana cara kita agar dapat bijak dalam kebermanfaatan tersebut?

Caranya adalah dengan menerapkan karakter kepemimpinan dari tiga slogan Ki Hajar Dewantoro. Ketika kita berada di hadapan seseorang yang kita ajari, maka kita perlu menjadi contoh yang baik. Misal, guru yang menunjukkan kedisiplinannya dalam mengajar di kelas. Kemudian ketika kita berada di tengah-tengah seseorang yang kita ajari, maka kita perlu menumbuhkan niat atau kemauan seseorang untuk berubah menjadi lebih baik. Dengan niat yang tumbuh dari dalam dirinya tersebut akan membantu kita dalam menerapkan tut wuri handayani, yaitu kita hanya perlu mengedukasinya agar ia mampu mengembangkan dirinya sendiri. Dalam novel Tere Liye yang berjudul “Pulang” menceritakan bahwa keberhasilan murid dalam belajar artinya waktunya untuk perpisahan antara guru dan murid. Sama halnya dengan pengobatan, bahwa proses pengobatan berhasil ketika pasien tidak kembali lagi ke dokternya.

Oleh : Ulviana (IPPNU Karanganyar Tirto)

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan