You are currently viewing 17 Agustus bukanlah HUT RI !!

17 Agustus bukanlah HUT RI !!

Oleh: Emelka

Tujuh Belas Agustus tahun empat lima, itulah hari kemerdekaan kita. . .

Mungkin lagu tersebut sangat familiar di telinga kita setelah tanggal di kalender masehi menunjukkan angka tujuh belas di tiap bulan Agustus. Namun apa benar Republik Indonesia kita tercinta ini merdeka di bulan tanggal tersebut?

Salah satu budaya kita yang sangat kental adalah budaya Ewuh Pekewuh atau tidak enak hati. Berbuat maksiat, tidak enak hati. Membuat teman menderita, tidak enak hati. Tidak menjamu tamu, tidak enak hati hingga tamu seperti halnya VOC dan Belanda selalu di jamu hingga ratusan tahun lamanya.

Budaya tersebut merupakan budaya yang Adiluhung sehingga masyarakat Nusantara tergelari sebagai bangsa yang ramah kepada siapapun yang hadir. Namun perlu pula diperhatikan, adanya budaya tersebut perlu dikaji ulang manakala menjadikan enggan untuk mengkritisi sebuah kekeliruan yang telah terjadi secara nasional dengan rentang waktu yang panjang. Sering kali dalih tidak enak hati ini menjadikan para ahli di bidangnya masing -masing tidak bersuara, kalaupun bersuara hanyalah minoritas di kalangan terbatas. Alhasil mereka yang pandai berkicau akan mendapatkan tempat terhormat meski dengan kapasitas di bawah standard.

Namun bukan soal kualifikasi personal yang akan dibahas disini, disini penulis hanya akan sedikit mencoba keberanian untuk mengungkapkan secuil pemahamannya dan mendobrak kuatnya benteng ketidak enakan hati yang melanda dinding-dinding hati banyak orang. Perlu penulis sampaikan adalah bagaimana pentingnya melakukan sesuatu dengan mengerti maksud dan maknanya, dalam hal ini ada Hari Ulang Tahun Kemerdekaan.

Dikatakan dalam pembukaan UUD 1945 bahwa sesungguhnya kemerdekaan adalah hak segala bangsa, dan oleh sebab itu penjajahan diatas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan peri kemanusiaan dan peri keadilan. Sederet kalimat singkat tersebut mempertegas pentingnya kebebasan kehidupan setiap bangsa. Sedangkan kalimat tersebut terinspirasi oleh bangsa yang terjajah dalam hal ini adalah bangsa Indonesia.

Bangsa Nusantara yang berganti ganti penguasa sejak era kerajaan hingga koloni-koloni hadir sebagai tamu tak di undang. Selama era kerajaan bangsa Nusantara dapat bersatu dengan penuh pengertian satu sama lain terlebih di era Majapahit yang berhasil menyatukan Nusantara hingga menjangkau separuh Asia Tenggara dan sebagian Asia Timur dengan kerjasama multilateral dan Majapahit sebagai pemimpinnya. Artinya bangsa ini adalah bangsa yang besar pengaruh dan kekuatannya meski akhirnya mengalami keredupan bahkan menjadi pesakitan saat harus kuwalahan meladeni bangsa Mleccha yang menggerogati persatuan dan kesatuan di Nusantara melalui eksploitasi dagangnya.

Di tanggal 28 Oktober 1928 mulai bersatulah para pemikir yang mau berjuang demi kebebasan berfikir, berkarya dan kebebasan hidup. Mereka bersatu dari bermacam suku dan kepercayaan, melebur ego mereka menjadi satu Tanah Air, Bangsa dan Bahasa Indonesia. Kemudian menghasilkan pergerakan kemerdekaan dengan di tandai pembacaan Proklamasi oleh Bung Karno yang di dampingi Bung Hatta.

Pertanyaannya adalah siapakah yang merdeka?

Apakah NKRI merdeka?

Mari kita telaah, dari runtutan tulisan di atas, dimanakah letak Indonesia sebagai sebuah negara?

Bukankah kala itu terkuasai oleh Belanda dan sempat beberapa tahun di kuasai Jepang?

Kemudian pada Agustus 1945 tepatnya di tanggal 6 s.d 9 terjadi pengeboman di Hiroshima dan Nagasaki sehingga memaksa Jepang menyerah dan meninggalkan Indonesia. Semenjak saat itu terjadi kekosongan kepemimpinan di Indonesia. Namun dalam teks Proklamasi tertulis “Pemindahan kekuasaan d.l.l dilakukan secara seksama dalam tempo sesingkat singkatnya” dari siapa kepada siapakah kekuasaan itu dipindahkan? Sedangkan Belanda dan Jepang sudah tidak berkuasa?

Perlu diketahui, bahwa selama penguasaan Belanda atas Indonesia ini tidak pernah merebut kekuasaan secara absolut, artinya Belanda lebih memilih sebagai pengatur kebijakan di belakang para Raja Nusantara. Sehingga kekuasaan pada era itu adalah milik para Raja Nusantara yang masih berdaulat seperti halnya Jogjakarta, Surakarta, Mangkunegara dan beberapa kerajaan lain.

Dengan kesepakatan tumpah darah, Bangsa dan Bahasa satu yaitu Indonesia maka dalam naskah Proklamasi tertulis atas nama Bangsa Indonesia yang secara otomatis menjelaskan yang merdeka adalah bangsa Indonesia bukan Negara Indoneisa.

Lantas bagaimana dengan NKRI ?

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut perlulah dimengerti, kapankah NKRI ada?

NKRI terbentuk dalam sidang PPKI pada 18 Agustus 1945 dengan sepakat menggunakan Pancasila sebagai landasan dasar Negaranya setelah di godok beberapa bulan sebelumnya serta UUD 1945.

Boleh saja mengatakan Hari Ulang Tahun Republik Indonesia, namun di tanggal 18 Agustus, bukan pada 17 Agustusnya. Karena pada 17 Agustus lebih tepat sebagai Hari Ulang Tahun Kemerdekaan bangsa Indonesia.

Dengan demikian perlunya bagi para kaum intelektual untuk lebih jeli dalam mempraktikan ataupun menyuarakan suatu pergerakan dengan skala Nasional agar makna perjuangan para pendahulu akan tetap terkenang. Mungkin terlihat naif saat tulisan ini sengaja ditunjukan langsung kepada Negara ini atau orang orang berkepentingan yang sudah terlanjur nyaman dengan pengucapan HUT RI, namun ini perlu di sampaikan kepada kaum yang berani berfikir, karena jauh daripada itu kemerdekaan bangsa akan memuat rasa kepedulian yang lebih mendalam kepada para pejuang bangsa yang belum terlabeli sebagai Negara Kesatuan Republik Indonesia. Lebih lagi para penguasa (Raja) Nusantara dahulu yang dengan legowo menyerahkan tahtanya untuk melebur menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia, bahkan tidak hanya kekuasaan, beban finansial negara baru ini pun di tanggung oleh mereka.[1]


[1] Cek Sejarah Hamengku Buwono IX

Bagikan Rekan :

Tinggalkan Balasan